Logo Bloomberg Technoz

Guna mendesak pembukaan selat agar kapal komersial dan tanker bisa melintas dengan aman, Trump telah menerapkan berbagai strategi. Mulai dari memberlakukan blokade tandingan di pelabuhan-pelabuhan Iran, meminta bantuan negara sekutu, hingga mengancam akan meluncurkan serangan udara besar-besaran. Namun, sejauh ini upaya tersebut belum membuahkan hasil signifikan.

Merespons sinyal yang saling bertolak belakang mengenai prospek perdamaian ini, harga minyak mentah AS kembali merangkak naik setelah sempat anjlok lebih dari 5%. Sementara itu, bursa saham di Asia bersiap bergerak melemah pada perdagangan Kamis pagi.

Pernyataan Trump muncul setelah televisi pemerintah Iran menyiarkan laporan mengenai draf kesepakatan sementara, yang mengeklaim bahwa lalu lintas maritim di Selat Hormuz bisa kembali normal dalam waktu satu bulan setelah perjanjian berlaku.

Pihak Gedung Putih langsung bereaksi keras dan melabeli laporan serta draf nota kesepahaman (MoU) tersebut sebagai "rekayasa total". Melalui unggahan di media sosial, Gedung Putih menambahkan bahwa "tidak ada yang boleh mempercayai apa yang disiarkan media pemerintah Iran."

Trump juga mengecilkan peluang adanya pelonggaran sanksi ekonomi bagi Teheran sebagai imbalan dari draf tersebut.

"Kami tidak sedang membicarakan pelonggaran sanksi apa pun, tidak ada uang, tidak ada apa-apa," ujar Trump.

Di sisi lain, media Iran IRIB News melaporkan beberapa poin krusial dalam draf versi mereka, termasuk tuntutan agar AS mencabut blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran dan penarikan mundur armada angkatan laut Amerika dari perairan di sekitar Iran.

Laporan draf tersebut juga menyebutkan bahwa Iran dan Oman akan membentuk mekanisme bersama untuk mengawasi pelayaran di Selat Hormuz. Hal ini menjadi salah satu isu paling sensitif karena AS menegaskan kapal-kapal harus diberi kebebasan melintas tanpa intervensi. Sementara itu, pihak Oman memilih bungkam dalam beberapa pekan terakhir terkait klaim Iran mengenai diskusi pengelolaan selat ini.

Trump pada Rabu menegaskan bahwa “Oman akan bersikap seperti semua pihak lainnya,” sambil mengancam bahwa jika tidak, “kami harus menghancurkan mereka. Mereka memahami itu.”

Ia juga kembali menyerukan agar lebih banyak negara bergabung dalam Abraham Accords dan mengakui Israel bersamaan dengan tercapainya kesepakatan dengan Iran.

Trump mengancam bahwa “saya tidak yakin kita harus membuat kesepakatan jika mereka tidak menandatanganinya,” serta menegaskan negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar “berutang itu” kepada AS.

Baik Iran maupun AS dalam sepekan terakhir menyatakan bahwa pembicaraan melalui mediator seperti Pakistan dan Qatar menunjukkan kemajuan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kembali mengatakan pada Rabu bahwa “ada beberapa kemajuan dan ketertarikan, dan kita akan melihat dalam beberapa jam dan hari ke depan.”

Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Bagheri-Kani, mengatakan bahwa “hingga kita menyepakati semua isu, maka kami menganggap belum ada kesepakatan apa pun.”

Bagheri-Kani, yang berada di Rusia pada Rabu, menambahkan bahwa “prosedur yang sepenuhnya berbeda akan diberlakukan” untuk pelayaran di Hormuz dan bahwa Iran serta Oman sedang melakukan pembicaraan untuk menentukan mekanisme tersebut.

Delegasi Iran baru-baru ini kembali ke Teheran setelah menjalani pembicaraan intensif di Doha yang menghasilkan kemajuan positif, menurut seorang diplomat yang mengetahui kunjungan tersebut.

Diplomat tersebut, yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas diskusi tertutup, mengatakan negosiasi yang dikoordinasikan dengan AS itu berfokus pada Selat Hormuz dan uranium Iran yang diperkaya tingkat tinggi, sementara isu dana Iran yang dibekukan juga turut dibahas sebagai bagian dari potensi kesepakatan akhir.

Menghadapi tekanan domestik untuk mengakhiri konflik yang telah memicu inflasi dan kenaikan harga bahan bakar serta mengancam peluang partainya dalam pemilu sela November mendatang, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan terburu-buru mencapai kesepakatan. Ia mengatakan Iran mengira dapat memaksanya dalam negosiasi.

“Mereka pikir mereka bisa menunggu saya,” kata Trump. “‘Kami akan menunggunya, dia punya pemilu sela.’ Saya tidak peduli dengan pemilu sela. Lihat apa yang terjadi tadi malam,” tambahnya, merujuk pada kemenangan kandidat yang ia dukung dalam pemilihan pendahuluan.

Pihak-pihak yang bertikai, setelah mencapai gencatan senjata rapuh pada awal April, juga masih harus menyepakati berapa besar aset keuangan Iran yang akan dicairkan dan seberapa cepat prosesnya dilakukan. Pada Selasa, media pemerintah Iran melaporkan Teheran menginginkan dana sebesar US$12 miliar dicairkan setelah kesepakatan sementara tercapai.

Hambatan lain yang berpotensi muncul adalah perang paralel di Lebanon antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran dan diklasifikasikan AS sebagai organisasi teroris. Israel meningkatkan serangan dalam beberapa hari terakhir dan mengatakan pasukan daratnya bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon selatan.

Iran bersikeras bahwa gencatan senjata harus mencakup “semua lini pertempuran”, termasuk Lebanon.

(bbn)

No more pages