Sedangkan, pelemahan dong Vietnam cenderung lebih kecil yaitu 16,76%. Pada akhir Desember 2015, dong Vietnam berada di VND 22.485/US$, dan posisi hari ini VND 26.353/US$.
Dengan begitu, dalam satu dekade mata uang Asia yang melemah tajam adalah rupee (-44,13%), disusul peso Filipina (-30,52%), dan rupiah (-28,98%), lalu dolar Vietnam (-16,76%).
Sebaliknya, hanya ada dua mata uang yang relatif stabil dalam satu dekade terakhir di kawasan, yaitu ringgit Malaysia dan dolar Singapura. Masing-masing justru tercatat menguat 7,59% dan 9,97%.
Meski melemah, pergerakan dong Vietnam lebih tertib daripada rupiah yang dari grafik terlihat seperti selalu berada di bawah ancaman. Volatilitas dong Vietnam lebih terjaga lantaran depresiasinya cenderung perlahan dan terkendali.
Vietnam setidaknya memiliki struktur ekonomi lebih stabil daripada Indonesia. Sehingga, pelemahan mata uang di Vietnam umumnya dibarengi dengan keyakinan pasar bahwa negara tersebut memiliki surplus perdagangan yang kuat dan arus investasi asing yang terus masuk.
Di sisi lain, India juga mengalami pelemahan paling dalam. Namun, sepertinya kepanikan pasar relatif terjaga di India karena ekonominya yang tumbuh agresif dan konsumsi domestiknya besar. Selain itu, investor global sepertinya masih melihat India sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang.
Bloomberg Survey memproyeksikan ekonomi India tumbuh 7,1% pada kuartal I-2026, dan pada kuartal II-2026 pertumbuhannya diperkirakan 6,4% akibat kenaikan harga minyak dunia.
Sementara itu, pergerakan ringgit lebih mapan. Hal ini terjadi karena Malaysia memiliki bantalan eksternal yang lebih kuat. Malaysia tercatat memiliki surplus perdagangan yang relatif stabil dengan ekspor komoditas seperti: minyak dan gas, LNG, minyak sawit, semikonduktor, komponen elektronik, dan produk manufaktur teknologi menengah.
Tak seperti Indonesia yang bergantung pada komoditas alam seperti batu bara dan minyak sawit, struktur ekspor Malaysia cenderung lebih terdeversifikasi. Sehingga ketika harga energi naik, Malaysia justru mendapat tambahan devisa karena menjadi eksportir energi.
Sementara, pergerakan dolar Singapura yang relatif stabil juga dipengaruhi oleh kredibilitas institusi dan kekuatan finansialnya sebagai hub yang menghubungi antara ekonomi kawasan dengan ekonomi global.
Sehingga, dominasi dolar AS terhadap mata uang Asia sebenarnya tak bisa ditelan mentah-mentah. Sebab, struktur ekonomi masing-masing negara berperan dalam menghadapi guncangan eksternal yang terjadi.
Lantas, mengapa rupiah menjadi yang paling sensitif?
Meski menempati posisi terlemah ketiga selama satu dekade terakhir, tetapi pergerakan rupiah cenderung sensitif lantaran Indonesia lebih rentan secara struktur ekonomi yang bergantung pada dolar AS, impor energi, dan modal asing jangka pendek.
Indonesia memang tampak kuat, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di ASEAN, dengan cadangan devisa di atas US$148,2 miliar posisi pada akhir kuartal I-2026.
Namun, struktur ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas primer seperti batu bara, nikel, CPO, yang harganya mengikuti siklus harga komoditas global.
Berbeda dengan Vietnam yang membangun basis ekspor manufaktur elektronik dan industri padat karya, Indonesia belum memiliki mesin ekspor bernilai tambah tinggi yang cukup besar untuk menghasilkan arus devisa stabil dalam jangka panjang.
(dsp/aji)

























