Logo Bloomberg Technoz

Melansir data Bloomberg pada 07:23 WIB, baht Thailand, yen Jepang, dolar Singapura, ringgit Malaysia, yuan offshore, dan dolar Hong Kong tercatat kembali melemah. Sebaliknya, hanya won Korea Selatan yang menguat sebesar 0,18%. 

Mata uang kawasan Asia pada Selasa (26/5/2026). (Bloomberg)

Bagi rupiah, tekanan eksternal kini tak lagi sekadar jadi faktor tambahan, tetapi justru menjadi katalis utama yang berpotensi mempercepat pelemahan. Kemarin, saat kondisi eksternal cukup mendukung, rupiah tetap gagal keluar dari tekanan dan justru sempat ditutup pada level terendahnya sepanjang sejarah di posisi Rp17.743/US$. 

Tekanan terbesar datang dari data defisit transaksi berjalan yang main melebar menjadi US$4,01 miliar, dari posisi periode sama di tahun sebelumnya, hanya US$0,15 miliar.

Melebarnya defisit ini mencerminkan pelemahan signifikan, sekaligus menjadi defisit kuartalan terbesar sejak kuartal IV-2019, saat pandemi Covid-19 terjadi. Ini menjadi sinyal bahwa bantalan eksternal Indonesia semakin tipis. 

Pelebaran ini terjadi di tengah menyusutnya suplus perdagangan Indonesia menjadi US$7,98 miliar, turun drastis dari posisi sebelumnya US$13,07 miliar pada kuartal sama tahun lalu. Ketika surplus perdagangan menyusut sementara kebutuhan impor, terutama energi dan barang modal tetap tinggi, tekanan permintaan dolar di pasar domestik otomatis melonjak. 

Situasi ini jadi lebih rentan karena pelebaran defisit terjadi bersamaan dengan tingginya kebutuhan pembiayaan fiskal dan meningatnya sensitivitas investor terhadap aset di negara berkembang. 

Investor asing sepertinya melihat rupiah tidak sekadar menghadapi tekanan siklus global akibat perang, tetapi juga adanya persoalan struktural berupa ketergantungan terhadap aliran modal portofolio dan lemahnya daya tahan sektor eksternal. 

Dalam kondisi seperti sekarang, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25% ternyata belum cukup kuat mengembalikan kepercayaan pasar. 

Di pasar obligasi, pemerintah melalui otoritas moneter dan fiskal tampaknya terus melakukan stabilisasi melaui intervensi di pasar Surat Utang Negara (SUN). Hal itu tercermin dari penurunan imbal hasil hampir di seluruh tenor. 

Imbal hasil tenor acuan 10 tahun turun paling banyak 5,2 bps menjadi 6,68%. Sementara, tenor 4 dan 5 tahun mengalami penurunan imbal hasil 5 bps ke 6,72% dan 6,66%. Begitu juga dengan tenor pendek 1 dan 2 tahun turun 1,7 bps dan 1,9 bps masing-masing ke 6,69% dan 6,66%. 

Namun, penurunan imbal hasil di pasar SUN belum sepenuhnya mencerminkan membaiknya persepsi risiko investor. Ini terlihat dari pasar surat utang pemerintah berdenominasi dolar AS (INDON) yang cenderung stagnan. Imbal hasil tenor 2 tahun tercatat di 4,27%, 3 tahun di 4,46%, tenor 5 tahun 4,84%, dan tenor 7 tahun 5,12%. Lalu, tenor 10 tahun 5,44%, dan tenor 30 tahun 5,79%. 

Dengan kombinasi pelemahan fundamental eksternal, meningkatnya kebutuhan dolar domestik, dan sentimen global yang masih rapuh, ruang penguatan rupiah jadi sangat terbatas dalam jangka pendek. 

Analisis Teknikal

Secara teknikal, rupiah berisiko melanjutkan pelemahan hari ini. Rupiah kemungkinan menguji support Rp17.750/US$. Support selanjutnya bisa menuju Rp17.800/US$ jika menembus trendline sebelumnya.

Analisis Teknikal Rupiah Selasa 26 Mei 2026 (Sumber: Bloomberg)

Teknikal rupiah juga memperlihatkan level Rp18.000/US$ sebagai level paling pesimistis pelemahan dalam perspektif harian.

Sebaliknya, rupiah memiliki level resistance terdekat di Rp17.700/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengonfirmasi resistance selanjutnya pada level Rp17.600/US$ sebagai resistance potensial.

(riset/aji)

No more pages