Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, AS dan Israel masih harus menyelesaikan sejumlah detail penting, termasuk apakah kapal yang melintasi Selat Hormuz akan diizinkan lewat secara bebas dan seberapa cepat miliaran dolar dana Iran akan dicairkan.

Iran tetap mempertahankan posisinya sejak awal perang yang pecah akibat serangan AS-Israel pada Februari lalu, bahwa Teheran harus memiliki kewenangan untuk mengelola lalu lintas maritim di jalur strategis tersebut. Namun, AS, negara-negara Arab, dan Eropa menilai hal itu tidak dapat diterima.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran mulai menjauh dari gagasan mengenakan tarif tol di Selat Hormuz. Sebagai gantinya, Iran akan mengenakan biaya untuk “layanan navigasi,” kata juru bicara kementerian luar negeri Iran pada Senin.

AS dan Iran sedang merundingkan kesepakatan yang memungkinkan kedua pihak memperpanjang gencatan senjata sekitar dua bulan, dengan AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan Teheran membuka kembali Selat Hormuz dalam periode tersebut.

Iran menegaskan bahwa gencatan senjata harus mencakup “seluruh lini depan” pertempuran, termasuk Lebanon, tempat Israel masih bertempur melawan kelompok Hizbullah. Israel, yang tidak terlibat langsung dalam negosiasi dengan Iran, menolak gagasan tersebut.

“Kami akan memastikan kebebasan bertindak Israel di semua lini depan tetap terjaga,” kata Menteri Energi Israel Eli Cohen kepada stasiun radio Galey Israel. “Israel tidak akan terikat pada kesepakatan apa pun yang tidak menghilangkan seluruh ancaman terhadapnya — nuklir, rudal balistik, dan pendanaan bagi organisasi teroris.”

Pakta sementara itu dinilai dapat menjadi langkah besar menuju berakhirnya perang yang telah menewaskan ribuan orang di Timur Tengah, terutama di Iran dan Lebanon. Konflik tersebut juga memberi tekanan politik bagi Trump di dalam negeri karena mayoritas warga Amerika menentang perang, salah satunya akibat melonjaknya harga bahan bakar.

“Ini hanya akan menjadi kesepakatan besar untuk semua pihak, atau tidak ada kesepakatan sama sekali — kembali ke medan perang dan baku tembak, tetapi lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya,” kata Trump. “Dan tidak ada yang menginginkan itu!”

Gencatan senjata jangka panjang diperkirakan akan menenangkan situasi di Timur Tengah dan meredakan kekhawatiran negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang sebelumnya menjadi sasaran ribuan rudal dan drone Iran sebelum jeda konflik dimulai pada 8 April. Negara-negara tersebut, bersama Qatar, telah mendesak Trump agar tidak kembali memulai perang.

Namun, Iran dan AS masih harus merundingkan pembatasan terhadap program nuklir Teheran setelah adanya kesepakatan sementara. Pembicaraan itu diperkirakan akan rumit dan belum ada jaminan berhasil.

AS bersikeras Iran harus menyerahkan lebih dari 400 kilogram uranium dengan tingkat pengayaan tinggi yang dikhawatirkan dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir. Washington juga ingin Iran berkomitmen menghentikan pengayaan uranium selama sekitar 20 tahun.

Trump juga menghadapi tekanan dari kelompok garis keras terkait Iran, termasuk Senator Partai Republik Lindsey Graham, yang menilai kesepakatan yang sedang dibahas terlalu banyak memberi konsesi kepada Teheran.

“Ini akan menjadi kebalikan total dari bencana JCPOA yang dinegosiasikan pemerintahan Obama yang gagal,” kata Trump dalam unggahan media sosial sebelumnya, merujuk pada kesepakatan tahun 2015 yang membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi dan pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Seruan Trump agar lebih banyak negara bergabung dalam Abraham Accords dipandang sebagai upaya meredam kritik dari kelompok garis keras. Arab Saudi dan Qatar selama ini menyatakan tidak akan mengakui Israel sampai negara itu memberikan status kenegaraan bagi Palestina di Gaza dan Tepi Barat, atau setidaknya mengambil langkah ke arah tersebut.

(bbn)

No more pages