Hal itu sebenarnya bisa saja terjadi lebih cepat. Banyak pengamat Messi terkejut ketika sang pemain, yang baru saja membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022, menolak kontrak besar senilai US$400 juta per tahun untuk bermain di Liga Pro Saudi. Sebagai gantinya, ia memilih bergabung dengan Inter Miami, sementara Ronaldo menandatangani kontraknya sendiri di Arab Saudi pada 2023 dengan nilai lebih dari US$200 juta per tahun.
“Uang tidak pernah menjadi masalah bagi saya, maupun hambatan dalam hal apa pun,” kata Messi kepada Mundo Deportivo dalam wawancara pada tahun tersebut. “Jika semuanya soal uang, saya pasti sudah pergi ke Arab Saudi atau ke tempat lain.”
Secara historis, atlet yang berhasil mengumpulkan kekayaan US$1 miliar atau lebih sebagian besar mencapainya melalui investasi. Roger Federer memperoleh lebih dari US$130 juta dari hadiah turnamen selama karier bermainnya — namun kesepakatan membeli 3% saham merek sepatu lari Swiss On pada 2019 menjadi sumber kekayaan terbesarnya setelah harga saham perusahaan itu melonjak.
Michael Jordan, meski menjadi salah satu pemain National Basketball Association dengan bayaran tertinggi pada masanya, memperoleh kurang dari US$100 juta dari gaji sepanjang kariernya, dengan kepemilikan saham di Charlotte Hornets serta kontrak endorsement menyumbang sebagian besar kekayaannya. Namun, lonjakan gaji atlet papan atas dalam beberapa tahun terakhir, terutama di sepak bola, memungkinkan bintang-bintang terbesar olahraga tersebut meraih US$1 miliar atau lebih hanya dari penghasilan bermain.
Kesepakatan dengan Miami juga datang dengan keuntungan inovatif bagi Lionel Messi, termasuk opsi ekuitas yang tidak biasa yang memberinya hak untuk membeli saham di klub tersebut, tempat mantan bintang Inggris David Beckham sudah menjadi salah satu pemegang saham.
Meski belum jelas berapa besar saham — jika memang ada — yang diambil Lionel Messi di klub AS tersebut sejak bergabung, nilai Inter Miami CF terus meningkat. Nilai klub itu naik lebih dari seperlima dalam setahun hingga Februari menjadi sekitar US$1,45 miliar, menurut Sportico. Inter Miami kini menjadi klub sepak bola paling bernilai di Amerika Serikat, menempati peringkat ke-16 dunia dan berada di atas tim seperti Newcastle United F.C..
Kesepakatan dengan Apple
Kepindahan Messi ke AS juga membuka cara-cara baru yang inovatif dalam pembayaran. Selama negosiasi kontrak awal, liga sepak bola AS dan Apple Inc. membahas kesepakatan pembagian pendapatan yang akan memberi Messi bagian dari penjualan langganan baru paket streaming MLS Season Pass di Apple TV+, menurut laporan The Athletic.
Jorge Mas, pemilik Inter Miami, mengatakan jumlah pelanggan layanan streaming tersebut meningkat dua kali lipat dalam beberapa bulan setelah Messi bergabung. Mas, dalam wawancara awal tahun ini, mengisyaratkan total pendapatan tahunan Messi dari klub mencapai antara US$70 juta hingga US$80 juta, dengan memperhitungkan hak ekuitas dan kompensasi sebagai pemain.
Bloomberg tidak dapat memverifikasi secara independen rincian finansial kesepakatan Lionel Messi dengan Apple Inc.. Upaya untuk menghubungi keluarga Messi melalui petugas pers tidak mendapat tanggapan.
Dari sudut pandang olahraga semata, kepindahan ke Inter Miami CF dipandang sebagian penggemar sebagai langkah mundur, mengikuti jalur yang lazim ditempuh para bintang veteran menuju negara sepak bola yang kurang bergengsi tetapi bersedia membayar mahal untuk talenta ternama. Sebelum pindah, Messi — yang oleh banyak orang dianggap sebagai pemain terbaik sepanjang masa — menghabiskan dua tahun di raksasa Prancis Paris Saint-Germain F.C., dan sebelumnya memimpin FC Barcelona meraih berbagai gelar liga Spanyol dan Eropa. Ia juga memenangkan penghargaan Ballon d'Or lebih banyak dibanding pemain mana pun.
Namun bahkan ketika berkembang menjadi bintang di klub Catalan tersebut pada 2000-an, butuh waktu sebelum penghasilannya benar-benar melonjak: saat menandatangani perpanjangan kontrak pada 2009, media Spanyol melaporkan bahwa ia memperoleh sekitar US$12 juta per tahun. Seiring inflasi gaji pemain sepak bola, musim lalu sepuluh pemain di skuad tersebut menghasilkan lebih dari angka itu per tahun, menurut data dari penyedia analitik Capology.
Messi telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Spanyol dan masih memiliki ikatan kuat dengan Barcelona, tetapi jarang memberikan wawancara kepada media di luar Argentina. Meski sangat dipuja di negara asalnya, terutama setelah kemenangan Piala Dunia 2022, ia sempat mengalami masa sulit pada tahun-tahun awal kariernya, sebagian karena sifat pemalunya dan juga karena banyak penggemar membandingkannya secara ketat dengan Diego Maradona.
Hal itu masih ia hadapi hingga sekarang. Dalam wawancara dengan layanan streaming Argentina awal tahun ini, ia menggambarkan dirinya menggunakan istilah lokal untuk seseorang yang canggung secara sosial, seraya menambahkan bahwa ia mudah gelisah ketika rencana harian berubah dan menonton TV sendirian di rumah termasuk salah satu kegiatan favoritnya.
Bisnis di Luar Lapangan
Messi sangat bergantung pada ayahnya, Jorge, dalam banyak urusan di luar lapangan, dengan menjadikannya agen, manajer bisnis, sekaligus penasihat. Alfonso Nebot Armisen, seorang bankir Spanyol yang kurang dikenal, telah mengelola perusahaan investasi pribadinya sejak 2009.
Namun pada beberapa kesempatan, bisnis Lionel Messi juga menarik perhatian otoritas pajak Spanyol, bersama sejumlah rekan sesama pesepak bola termasuk Cristiano Ronaldo. Satu dekade lalu, Messi dan ayahnya, Jorge, dinyatakan bersalah karena menipu pemerintah Spanyol sekitar 4 juta euro antara 2007 hingga 2009 terkait pendapatan hak citra yang dialihkan ke perusahaan cangkang. Ia dijatuhi hukuman penjara dan denda, meski pada akhirnya terhindar dari hukuman penjara.
Sejak saat itu, ia mulai melakukan diversifikasi bisnis. Pada Desember 2024, Messi mencatatkan sebuah REIT di bursa kecil Spanyol dengan valuasi US$232 juta. Perusahaan tersebut, Edificio Rostower Socimi, memiliki sejumlah hotel dan properti komersial lainnya.
Ia juga mulai berekspansi ke bisnis barang konsumsi: pada 2024, Lionel Messi meluncurkan minuman olahraga Más+ by Messi bekerja sama dengan Mark Anthony International SRL, grup minuman di balik Mike’s Hard Lemonade. Ia juga bergabung sebagai investor di jaringan restoran Argentina El Club de la Milanesa, yang mengkhususkan diri pada steak tepung roti khas Argentina dan salah satu makanan favorit Messi, sebagian untuk membantu ekspansi internasional restoran tersebut.
Seperti Cristiano Ronaldo, dan mungkin dengan mempertimbangkan kehidupan setelah pensiun bermain, Messi juga membangun portofolio klub sepak bola. Baru-baru ini diumumkan bahwa ia mengakuisisi klub divisi lima Spanyol UE Cornellà, menambah kepemilikannya di Deportivo LSM, klub Uruguay yang dimilikinya bersama sahabat sekaligus mantan rekan setimnya, Luis Suárez. Keluarga Messi juga mendirikan dan mengelola klub divisi bawah bernama Los Leones di kota kelahirannya, Rosario.
Mungkin masih akan ada langkah bisnis lain yang dilakukan Lionel Messi seiring ia mulai memikirkan masa pensiun, berdasarkan komentarnya dalam sebuah forum bisnis di Miami tahun lalu.
“Sepak bola punya tanggal kedaluwarsa,” katanya. “Bisnis adalah sesuatu yang saya sukai, dan saya sedang mempelajarinya.”
(bbn)





























