Namun, Agung mengeklaim distribusi bawang merah dari pelbagai daerah seperti Nganjuk, Enrekang, Pati, Brebes, Temanggung, dan Garut masih berjalan lancar. “Kami terus berkoordinasi dengan dinas pertanian, petani champion, pelaku usaha, dan berbagai pihak terkait agar pasokan tetap aman. Produksi diperkirakan meningkat pada Juni 2026 seiring masuknya masa panen di sejumlah sentra utama,” ujar dia.
Di sisi lain, petani champion bawang merah asal Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kasmidi, mengatakan panen di wilayahnya masih berlangsung sampai menjelang Iduladha dengan distribusi rutin ke Kalimantan sebanyak tiga kali dalam sepekan. Sementara itu, champion bawang merah asal Solok, Sumatera Barat (Sumbar), Amri Ismail menyebut panen raya di daerahnya diprediksi bakal terjadi pada pertengahan Juni tahun ini dan akan memperkuat pasokan bagi wilayah Sumatera.
Adapun Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Dian Alex Chandra mengeklaim stok bawang merah sampai akhir Mei 2026 masih tersedia meski produksi di beberapa daerah mengalami penurunan sekitar 30-40% akibat cuaca ekstrem. “Harga diperkirakan masih berada di atas harga acuan hingga Iduladha karena meningkatnya permintaan masyarakat. Namun, kondisi diproyeksikan kembali normal seiring masuknya panen dari berbagai sentra produksi,” tutur dia.
Di samping itu, Kementan RI memastikan terus memantau secara intensif pada perkembangan produksi, distribusi, dan harga bawang merah di pelbagai daerah guna menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan nasional sepanjang periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
(ain)
































