“Kesepakatan sementara antara serikat pekerja dan manajemen merupakan kabar baik dalam hal pengurangan ketidakpastian,” kata Ha Seok-keun, kepala investasi di Eugene Asset Management.
Negosiasi yang berlangsung berhari-hari dengan upaya saling mengancam dan tekanan tinggi akhirnya berujung pada kesepakatan sementara. Pada Rabu pagi, pemimpin serikat pekerja Choi Seung-ho menyatakan bahwa aksi mogok kerja akan tetap dilanjutkan setelah manajemen Samsung menolak usulan dari mediator pemerintah yang telah disetujui oleh serikat pekerja.
Pemerintah Korea — yang sangat berkepentingan dengan hasilnya karena pentingnya Samsung bagi perekonomian negara — mengajukan permohonan terakhir saat Menteri Tenaga Kerja Kim Young-hoon memanggil kedua belah pihak untuk melakukan pembicaraan pada malam hari. Sekitar 90 menit sebelum tengah malam waktu setempat, kedua belah pihak mencapai kesepakatan sementara.
Berdasarkan ketentuan proposal tersebut, Samsung akan memulai sistem bonus kinerja khusus yang akan memberi penghargaan kepada pekerja di divisi semikonduktor berdasarkan profitabilitas. Skema bonus 10 tahun ini akan mencakup target laba ambisius sebesar 200 triliun won (setara US$133 miliar) per tahun dari 2026 hingga 2028, dan 100 triliun won dari 2029 hingga 2035.
Serikat pekerja Samsung mengumumkan kepada para anggotanya bahwa mereka dapat memberikan suara terkait usulan perjanjian upah 2026 mulai pukul 14.00 pada 22 Mei hingga pukul 10.00 pada 27 Mei.
Tensi yang Memanas
Ketegangan antara manajemen dan pekerja mencerminkan situasi yang memanas di seluruh negeri, seiring para pekerja mendesak agar mendapatkan porsi yang lebih besar dari keuntungan yang diperoleh perusahaan seperti Samsung dan SK Hynix Inc. dari booming infrastruktur AI global.
Samsung diperkirakan akan menjadi salah satu perusahaan paling menguntungkan di dunia tahun ini, dengan divisi semikonduktornya mencatatkan lonjakan laba 48 kali lipat pada kuartal Maret.
Serikat pekerja sebelumnya telah menuntut agar Samsung menghapus batasan bonus yang ada, mengalokasikan 15% dari laba operasionalnya untuk bonus pekerja, dan meresmikan ketentuan tersebut dalam kontrak kerja. Para pemimpin serikat pekerja menunjuk SK Hynix, yang tahun lalu setuju untuk mengalokasikan 10% dari laba operasional tahunan ke dalam kumpulan bonus kinerja.
Samsung telah mengusulkan untuk mengalokasikan 10% dari laba operasional untuk bonus, beserta paket kompensasi khusus satu kali yang melebihi standar industri. Pejabat eksekutif perusahaan berpendapat bahwa tuntutan serikat pekerja akan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Berdasarkan struktur kompensasi baru, Samsung akan mempertahankan sistem bonus yang ada dan menambahkan skema baru untuk divisi chip yang didanai oleh 10,5% dari laba yang akan dibayarkan dalam bentuk saham, menurut perusahaan. Kumpulan bonus akan dibagi antara berbagai tingkat organisasi, dengan 40% dialokasikan untuk divisi dan 60% untuk unit bisnis individu.
Alih-alih uang tunai, karyawan akan menerima bonus dalam bentuk saham, setelah dipotong pajak. Mereka dapat menjual sepertiga dari saham tersebut segera, sementara sisanya harus disimpan hingga dua tahun.
Selain bonus baru, Samsung menyetujui kenaikan gaji rata-rata sebesar 6,2% tahun ini, beserta peningkatan tunjangan anak dan pinjaman perumahan.
Kesepakatan ini, meskipun masih tentatif, kemungkinan akan menjadi kabar baik bagi manajemen perusahaan dan investor.
“Karena kekhawatiran terkait potensi pemogokan, Samsung telah menjadi sangat undervalued dibandingkan dengan SK Hynix,” kata Ha dari Eugene Asset Management. “Kami memperkirakan harga saham Samsung akan mengalami rebound yang kuat.”
(bbn)





























