Logo Bloomberg Technoz

Menguat dan reboundnya IHSG merupakan efek secara langsung dari melesatnya sejumlah saham big caps.

Deretan saham unggulan, Rabu (20/5/2026) pagi hari Sesi I.

  1. Bank Central Asia (BBCA) menyumbang 11,76 poin
  2. Telkom Indonesia (TLKM) menyumbang 10,49 poin
  3. Bank Mandiri (BMRI) menyumbang 8,64 poin
  4. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyumbang 7,87 poin
  5. Ekamas Mora Republik (MORA) menyumbang 7,66 poin

Perhatian investor tertuju dan berfokus ke Thamrin di mana kantor pusat Bank Indonesia berada. Gubernur Perry Warjiyo dan sejawat sudah menggelar pertemuan sedari kemarin, dan akan mengumumkan hasil RDG, pada siang hari nanti.

Rapat Dewan Gubernur BI yang telah digelar sejak Selasa–Rabu, 19–20 Mei 2026 dan diagendakan mengumumkan keputusan siang nanti pukul 14.00 WIB, diprediksi akan menghasilkan vonis hike, naik, untuk BI Rate menuju level 5%.

Mengacu konsensus yang dihelat oleh Bloomberg, sebanyak 41 ekonom/analis yang disurvei, mengestimasikan BI Rate akan dinaikkan menjadi 5% di tengah volatilitas rupiah, dengan mengambil langkah hawkish.

Dari 41 orang ekonom/analis yang disurvei berada di rentang proyeksi cukup sempit antara 4,75% hingga 5,25%. Sejumlah 26 ekonom/analis memproyeksikan BI akan menaikkan suku bunga ke 5%, sementara sisanya memproyeksikan BI Rate tetap di 4,75%.

Deviasi standar hanya 0,13%, menandakan pasar melihat ruang kebijakan moneter BI saat ini semakin terbatas dan arah keputusan relatif mudah ditebak.

Proyeksi ekonom terkait BI Rate terkonsentrasi di kisaran 4,75%–5% memberi sinyal mayoritas pelaku pasar tidak lagi melihat ruang agresif bagi BI untuk memangkas suku bunga walam waktu dekat, biarpun pertumbuhan ekonomi terindikasi melambat.

Fokus utama kini sepertinya mulai bergeser dari stimulus pertumbuhan menuju menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan arus modal asing.

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, menjadi satu-satunya ekonom yang memproyeksikan BI Rate naik 50 bps menjadi 5,25%. Sepertinya, ia mengantisipasi kemungkinan yang lebih ekstrem, BI bisa saja dipaksa menaikkan suku bunga lebih tinggi jika tekanan rupiah semakin tidak terkendali.

Namun begitu, masih ada ekonom yang memproyeksikan adanya kemungkinan suku bunga tetap di posisi 4,75%. Sejumlah ekonom ini tampaknya melihat perlambatan ekonomi domestik mulai membutuhkan dukungan moneter tambahan.

Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics salah satu ekonom yang memproyeksikan BI Rate tetap di 4,75%. Henderson menyebut, BI Rate ditahan lantaran kenaikan harga minyak mentah menekan pertumbuhan dengan proyeksi inflasi kemungkinan akan melampaui target BI yang berada rentang 1,5–3,5%. 

Selain itu, konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih, permintaan kredit melambat, dan tekanan sektor manufaktur mulai terlihat dari penurunan aktivitas ekspor.

(fad)

No more pages