Logo Bloomberg Technoz

Melansir data Bloomberg, rupiah menyentuh level Rp17.706/US$ pada pukul 09:28 WIB atau melemah sekitar 0,28% dibanding penutupan sebelumny. Lalu pada 09:42 WIB, rupiah melanjutkan pelemahannya ke Rp17.710/US$. 

Rupiah All Time Low Rp17.723/US$ (Bloomberg)

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah setelah sehari sebelumnya ambles lebih dari 1% dan menandai meningkatnya tekanan besar di pasar keuangan domestik, dan tak lagi bisa dipandang sebagai dampak dari gejolak eksternal belaka.

Pelaku pasar kini mulai mempertanyakan seberapa kuat Bank Indonesia (BI) mampu mempertahankan stabilitas nilai tukar di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang semakin berat dengan menggunakan metode intervensi pasar. 

Dari eksternal, lonjakan harga minyak dunia memang masih terjadi akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah terus mendorong permintaan dolar AS sebagai aset safe haven. Pada saat yang sama, yield US Treasury yang masih tinggi membuat arus modal asing cenderung keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia.

Namun sepertinya tekanan terhadap rupiah kali ini dinilai bukan lagi sekadar dipicu faktor global. Pasar mulai melihat adanya kekhawatiran terhadap kredibilitas policy anchor domestik, terutama terkait arah kebijakan moneter di tengah depresiasi rupiah yang semakin cepat.

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, menilai kondisi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan harga minyak atau arah suku bunga The Fed, melainkan mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yaitu kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia. 

“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri,” kata Fakhrul.

Intervensi di pasar valas dinilai belum cukup efektif untuk meredam volatilitas rupiah, sehingga pasar mulai memperkirakan BI perlu menaikkan suku bunga acuan setidaknya menuju 5% guna mengembalikan daya tarik aset rupiah dan menahan keluarnya arus modal asing.

Menurut Fakhrul, BI perlu kembali menggunakan pendekatan stabilisasi klasik yang pernah diterapkan saat menghadapi tekanan eksternal pada periode sebelumnya, yakni pre-emptivefront loading, dan ahead the curve. Dalam konteks saat ini, langkah tersebut menurutnya kemungkinan membutuhkan kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin.

“Kenaikan suku bunga kali ini bukan karena ekonomi runtuh atau inflasi sudah tinggi. Justru ini diperlukan agar kita tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat kehilangan jangkar ekspektasi,” katanya.

(cpa/naw)

No more pages