Logo Bloomberg Technoz

“Secara fundamental, Indonesia memang mengalami kehilangan potensi keuntungan maksimal justru pada saat harga sedang berada di puncak performanya. Sederhananya, ketika harga barang di pasar dunia sedang mahal-mahalnya, volume pasokan siap jual dari Indonesia justru tidak berada pada kapasitas optimalnya,” kata Wahyu ketika dihubungi, Selasa (19/5/2026).

Produksi tambang-tambang tembaga terbesar di dunia./dok. BMI

Ada Momentum

Meskipun begitu, Wahyu memandang penambang di Indonesia tidak sepenuhnya kehilangan momentum untuk meraih keuntungan lebih ketika harga tembaga global meroket.

Dia menilai kenaikan harga rata-rata tembaga akhirnya memberikan bantalan yang kuat bagi kinerja keuangan, meskipun volume penjualan menurun.

“Kenaikan average selling price ini mengompensasi penurunan output, sehingga margin laba kotor perusahaan tetap terjaga dengan baik,” ungkap dia.

Dalam kesempatan itu, Wahyu menilai terdapat peluang harga logam tembaga dapat menembus rekor baru di sekitar US$15.000/ton pada tahun ini atau tahun depan.

Secara teknikal, kata Wahyu, harga tembaga sedang memasuki masa koreksi usai mencapai puncaknya di atas US$14.000/ton.

Dia menyatakan, saat ini harga tembaga tertahan di area support baru di kisaran US$12.500/ton hingga US$13.00/ton. Dia juga mencermati formasi candlestick dalam beberapa bulan terakhir yang adanya penolakan harga di level bawah.

Wahyu memprediksi kondisi tersebut mengindikasikan para pelaku pasar memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan aksi akumulasi atau pembelian kembali.

Untuk itu, dia menilai jika harga tembaga mampu bertahan dan ditutup konsisten di atas level psikologis US$13.500/ton, maka jalur menuju rekor tertinggi baru di atas US$14.500/ton akan terbuka.

“Harga tembaga masih berpotensi besar melaju ke arah target baru di kisaran US$15.000/ton pada sisa tahun ini hingga tahun depan,” kata Wahyu.

Harga tembaga terus naik di atas US$14.000/ton, mendekati rekor tertinggi yang terlihat awal tahun ini, seiring meningkatnya risiko pasokan akibat gangguan tambang di seluruh dunia.

Saat ini tembaga di lego senilai US$13.587,50/ton di London Metal Exchange (LME) atau naik 0,24% dari perdagangan hari sebelumnya.

Sekadar catatan, Deutsche Bank sebelumnya memperingatkan bahwa output dari para penambang terbesar dunia akan turun 3% tahun ini dan berpotensi kembali melemah pada 2026.

Proyek pertambangan tembaga terbesar di dunia./dok. BMI

Meski persediaan global masih mencukupi untuk saat ini, analis Morgan Stanley memperkirakan pasar tembaga global akan menghadapi defisit paling parah dalam lebih dari 20 tahun.

Bank tersebut memperkirakan permintaan akan melampaui pasokan sekitar 600.000 ton tahun depan, dengan kesenjangan yang diproyeksikan semakin melebar setelahnya.

Citigroup telah menyarankan klien bahwa harga tembaga bisa mencapai US$15.000 dalam skenario bullish, di mana pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan pemangkasan suku bunga AS makin meningkatkan daya tarik logam tersebut, mendorong investor masuk lebih agresif.

(azr/wdh)

No more pages