Logo Bloomberg Technoz

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan impor LPG pada Januari—Februari 2026 mencapai 1,31 juta metrik ton atau setara 83,97% dari total kebutuhan sebanyak 1,56 juta metrik ton.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM, produksi LPG domestik pada Januari—Februari 2026, atau periode sebelum perang Iran meletus pada 28 Februari, hanya sekitar 130.000 metrik ton.

Pada periode Januari hingga Februari 2026, kebutuhan LPG tercatat mencapai 26.000 metrik ton per hari.

“Dari grafik yang kami sampaikan terlihat bahwa produksi dalam negeri masih jauh di bawah kebutuhan sehingga impor LPG tetap mendominasi pasokan nasional,” kata Sekretaris Ditjen Migas Rizwi Jilanisaf Hisjam dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (8/4/2026).

Berdasarkan asal negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai dengan April 2026 mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor.

Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.

Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.

“Untuk situasi saat ini, dengan adanya kendala di Selat Hormuz, maka negara-negara lain selain Timur Tengah menjadi alternatif paling dominan untuk diupayakan importasi LPG-nya pada 2026,” ujar Rizwi.

Dalam kesempatan itu, Rizwi juga mengungkapkan Ditjen Migas Kementerian ESDM menginstruksikan kilang LPG milik swasta untuk mengalihkan penjualan LPG industri menjadi dijual ke PT Pertamina Patra Niaga (PPN).

Nantinya, LPG yang dijual ke PPN tersebut bakal dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal tersebut dilakukan Ditjen Kementerian ESDM untuk memitigasi penyediaan pasokan LPG.

“Kami memberikan prioritas, usulan prioritas kepada kilang-kilang LPG swasta untuk diberikan produksinya penawaran pertama kepada Pertamina Patra Niaga yang LPG-nya dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat,” tegas dia.

(smr/wdh)

No more pages