Logo Bloomberg Technoz

“Ini bukanlah penurunan yang bisa Anda manfaatkan untuk membeli,” kata Gary Dugan, kepala eksekutif Global CIO Office. “Apa yang belum sepenuhnya diperhitungkan pasar adalah bahwa ini bukanlah kisah tentang pendapatan yang meleset di India, melainkan kisah tentang nilai akhir. Asumsi tentang posisi bisnis-bisnis ini dalam 10 tahun ke depan harus berubah.”

India Ketinggalan AI dan Kini Masa Jabatannya Sebagai Favorit Pasar Mungkin Telah Berakhir (Bloomberg)

Menyoroti skala penyesuaian bobot tersebut, bobot India dalam indeks pasar negara berkembang MSCI telah turun menjadi sekitar 12% dari 19% pada tahun lalu. Menurut M&G Investments, sekitar dua pertiga dari penyesuaian alokasi dari India selama 12 hingga 18 bulan terakhir mencerminkan strategi investasi berbasis AI. 

Seiring fund manager mengurangi eksposur mereka, investor asing meninggalkan India dengan laju yang semakin cepat, sehingga mendorong kepemilikan mereka ke level terendah dalam 14 tahun, menurut perhitungan Goldman Sachs Group Inc. Kini, mereka memegang saham lebih sedikit daripada lembaga domestik untuk pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun. 

Perubahan perntungan India sangat mencolok. Nilai pasarnya melonjak dari level terendah selama pandemi menjadi rekor US$5,73 triliun pada September 2024, dengan Indeks NSE Nifty 50 menjadi pasar utama dengan kinerja terbaik di dunia pada saat itu.

Narasi tersebut mulai memudar seiring kekhawatiran atas valuasi yang terlalu tinggi membuat arus modal asing semakin tidak stabil. Kemudian datanglah booming AI, yang menarik investor menjauh. Sejak puncaknya, nilai pasar sebesar $924 miliar telah menguap.

Tahun ini, tekanan semakin menumpuk seiring lonjakan harga minyak yang memperparah risiko inflasi dan menekan nilai tukar rupee. Investor asing berbondong-bondong menarik dana — mereka telah menarik dana bersih sebesar US$42 miliar sejak akhir 2024.

Perputaran ini sebagian besar mengarah ke Korea dan Taiwan, yang memberikan kontras tajam dengan indeks ekuitas berbasis AI mereka yang masing-masing naik 78% dan 42% tahun ini. 

Indeks India turun lebih dari 9%, menuju penurunan tahunan pertamanya setelah satu dekade kenaikan. Kedua pasar Asia Utara tersebut hanya berjarak kurang dari $500 miliar untuk melampaui India dalam hal nilai pasar ekuitas.

Hal yang Terjadi di India

“Sementara dunia menyesuaikan valuasi seputar kecerdasan buatan, indeks utama India tetap terikat pada masa lalu — dan modal global memperhatikan hal ini,” kata Aadil Ebrahim, kepala divisi ekuitas di Klay Group. Hingga pasar sahamnya “berkembang untuk mencerminkan generasi baru inovator, India akan tetap menjadi posisi underweight struktural dalam perdagangan AI.”

Inti dari perbedaan ini adalah dasar dari pergerakan investasi India. Selama beberapa dekade, asumsi yang berlaku adalah bahwa India akan mengikuti jejak Asia Timur dan naik dalam rantai nilai dari manufaktur ke jasa, lalu ke teknologi inovatif. Namun, lompatan terakhir itulah yang selalu paling sulit dilakukan.

Mungkin indikator paling mencolok bahwa investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap India adalah nilai tukar rupee, yang anjlok ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS. 

Hal tersebut di atas memaksa Perdana Menteri Narendra Modi untuk meminta warga agar mengurangi penggunaan bahan bakar dan menghindari perjalanan yang tidak perlu, dalam upaya untuk menopang nilai tukar tersebut. 

“India sedang mendekati titik balik strategis yang sesungguhnya, Fase pertumbuhan global berikutnya sedang dibentuk oleh infrastruktur AI, daya komputasi, dan kepemilikan teknologi yang belum dimiliki India,” kata Hebe Chen, analis di Vantage Global Prime. 

Hal sebaliknya, perusahaan-perusahaan yang telah menggerakkan kesuksesan India kini semakin terlihat sebagai beban. Pasar saham sangat didominasi oleh sektor layanan TI, industri US$315 miliar yang dipimpin oleh Infosys Ltd. dan Tata Consultancy Services Ltd.

Model bisnis mereka bergantung pada pembangunan dan pemeliharaan sistem untuk klien global, struktur yang semakin rentan seiring alat AI generatif mengotomatisasi pemrograman, pengujian, dan fungsi back-office. 

Indeks NSE Nifty IT telah turun lebih dari 26% tahun ini ke level terendah sejak 2023, terjebak dalam aksi jual global yang lebih luas pada saham-saham jasa dan ekonomi lama yang terpapar gangguan AI. 

India Ketinggalan AI dan Kini Masa Jabatannya Sebagai Favorit Pasar Mungkin Telah Berakhir (Bloomberg)

Bisa jadi, sebagian investor meyakini bahwa masa-masa terburuk telah terlewati setelah periode penurunan yang berkepanjangan. Bobot sektor teknologi informasi dalam indeks Nifty telah turun menjadi sekitar 8% dari lebih dari 17% pada awal 2022. Selain itu, Grup Adani sedang mengerahkan sumber daya yang besar untuk memperluas bisnis pusat data.

“Sebagian besar penyesuaian tersebut telah terjadi. Yang belum sepenuhnya tercermin dalam harga adalah asumsi bahwa India layak mendapatkan premi rasio harga-ke-pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan pasar emerging lainnya hanya karena laju pertumbuhannya lebih tinggi,” kata Vikas Pershad, manajer portofolio di M&G.

Namun, kelanjutan pertumbuhan tersebut dipertanyakan. Sekitar 15 juta orang India bekerja di sektor layanan IT dan pusat kemampuan global, banyak di antaranya menduduki pekerjaan swasta dengan gaji tertinggi di negara tersebut.

Pelambatan struktural dalam perekrutan atau pergeseran fundamental dalam permintaan global terhadap layanan tersebut akan berdampak luas ke seluruh ekonomi, termasuk sektor properti, konsumsi, pinjaman, dan sektor keuangan secara keseluruhan.

Lantas, meskipun dampaknya pada perekonomian secara luas belum terasa, proyeksi pertumbuhan sudah mulai melambat, menantang narasi India sebagai pasar dengan pertumbuhan tinggi. Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan akan tumbuh 6,5% pada 2027 dan 2028 masing-masing, setelah rata-rata pertumbuhan tahunan 8,3% dalam empat tahun terakhir, menurut prediksi Dana Moneter Internasional (IMF).

Perkiraan pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks acuan Nifty 50 pada tahun 2027 telah berkurang sekitar setengahnya sejak awal tahun, menurut Chiara Salghini, manajer portofolio di Vontobel’s Quality Growth boutique. 

“Hal yang paling berbahaya dari situasi India saat ini adalah bahwa narasi yang berkembang masih cukup optimis sehingga kesadaran akan urgensi untuk melakukan evaluasi ulang belum sepenuhnya terserap,” kata Dugan dari Global CIO Office.

(bbn)

No more pages