Logo Bloomberg Technoz

Anto, sapaan akrabnya, menyatakan PHI turut melakukan kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan reaktivasi sumur. Langkah tersebut diklaim meningkatkan produktivitas dan memperpanjang usia sumur dan lapangan migas.

”Penerapan inovasi dan teknologi merupakan langkah strategis Perusahaan dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, dan mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan,” jelas Anto.

Salah satu langkah yang diterapkan oleh anak perusahaan PHI adalah penerapan metode High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil, yang dikelola PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Teknologi yang sama juga dimanfaatkan di Lapangan Mutiara serta Lapangan Pamaguan, yang dikelola oleh  PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Dia menjelaskan, metode HPPO mengatasi tantangan jenis minyak yang memiliki kandungan lilin atau parafin tinggi dengan titik tuang lebih tinggi dibandingkan temperatur operasi pipa.

“Penggunaan pelarut khusus mampu menjaga minyak agar tetap cair (tidak membeku) sehingga aliran produksi berlangsung optimal dan berkelanjutan. Tak hanya itu, terobosan teknologi lainnya di PHM juga berhasil mengoptimalkan produksi dari sumur emulsi di Lapangan Tunu,” papar dia.

Sementara itu, PHSS menerapkan metode Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL) pada sumur-sumur kerja ulang atau workover di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara. Teknologi gas lift dilakukan dengan menyuntikkan gas bertekanan ke dalam pipa sumur untuk membantu minyak lebih mudah terangkat ke permukaan.

“Inovasi ini berhasil meningkatkan produktivitas sumur dan mendukung pencapaian target produksi pada triwulan I 2026. Akselerasi pencatatan produksi minyak turut disumbangkan oleh anak perusahaan PHI, yakni PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dari Lapangan Kerindingan dan Lapangan Sapi, serta sumur sisipan (infill) baru di lepas pantai Kalimantan Timur,” klaim dia.

Anto sebut bahwa anak usaha PHI juga melakukan reaktivasi sumur. Di PHM, misalnya, menjalankan Program Handil Rejuvenation di Lapangan Handil yang meningkatkan produksi sebesar 5% dibandingkan sebelum pelaksanaan program. Sementara itu, produksi gas yang cukup tinggi didorong on stream platform kedua dan ketiga Proyek Sisi Nubi AOI yang dikelola oleh PHM pada akhir Februari dan Maret 2026.

“Kontribusi positif produksi gas juga ditopang oleh kelancaran kegiatan perawatan sumur (well service) di Lapangan Tunu (PHM), sumur workover Lapangan Santan (PHKT) dan Lapangan Nilam serta Mutiara (PHSS),” lanjut Anto.

Sekadar informasi, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) merupakan bagian Subholding Upstream Pertamina yang mengelola operasi dan bisnis hulu migas di Regional 3 Kalimantan yang meliputi Zona 8, Zona 9 dan Zona 10.

(wep)

No more pages