Logo Bloomberg Technoz

Adapun hasil rebalancing indeks yang menjadi acuan manajer investasi atau fund manager dunia itu amat memberikan sentimen terhadap arah harga saham.

Bersama keduanya AMMN dan TPIA, menyusul empat saham lainnya yang juga kompak melemah usai terdepak dan dikeluarkan dari daftar MSCI Global Standard Indexes, mereka adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Konsekuensinya, emiten DSSA yang mencatat penurunan harga saham 11,1% di level Rp1.035/saham. Usai siang hari tadi saham DSSA sempat menyentuh level terendah mencapai Rp1.005/saham. Menyusul saham BREN yang juga langsung terjun bebas, melemah 11,3% di level terendahnya yang mencapai Rp3.200/saham.

Saham CUAN juga melemah amat dalam mencapai 10% di level Rp850/saham. Terlebih sempat menyentuh lowest level terendahnya hingga Rp825/saham. Bersamaan dengan saham AMRT yang flat dan stagnan di level Rp1.415/saham, setelah sempat jatuh mencapai terdalamnya Rp1.305/saham.

Hal tersebut ditengarai imbas saham AMMN, saham TPIA, saham DSSA, saham BREN, saham CUAN dan saham AMRT tersingkir daripada kumpulan saham–saham unggulan MSCI Global Standard Index.

Dari deretan saham tersebut, hanya AMRT yang tidak sepenuhnya keluar dari seluruh kategori indeks yang diterbitkan MSCI.

Posisi AMRT turun kelas ke kategori MSCI Small Cap Indexes. Sementara, sebanyak 13 saham keluar dari kategori ini. Belasan saham tersebut adalah, SSMS, AALI, MIDI, DSNG, SIDO, BANK, MSIN, MIKA, BSDE, ANTM, TKIM, TAPG, dan APIC.

Berikut pergerakan harga sahamnya per tutup dagang hari ini, Rabu pukul 16:00 WIB.

  1. SSMS melemah 8,64% di posisi Rp1.215/saham
  2. AALI melemah 5,88% di posisi Rp7.600/saham 
  3. MIDI melemah 4,76% di posisi Rp320/saham 
  4. DSNG melemah 4,46% di posisi Rp1.605/saham 
  5. SIDO melemah 4,72% di posisi Rp444/saham 
  6. BANK melemah 4,71% di posisi Rp486/saham 
  7. MSIN melemah 4,44% di posisi Rp645/saham 
  8. MIKA melemah 3,64% di posisi Rp1.850/saham 
  9. BSDE melemah 3,28% di posisi Rp735/saham 
  10. ANTM melemah 1,96% di posisi Rp3.500/saham
  11. TKIM melemah 0,92% di posisi Rp8.000/saham 
  12. TAPG flat di posisi Rp1.890/saham, setelah sempat drop 5% mencapai Rp1.800/saham
  13. APIC menguat 0,86% di posisi Rp1.755/saham, setelah sempat jatuh 5,5% mencapai Rp1.645/saham

Hasil kajian atau review hingga resmi tersingkirnya dari daftar saham tersebut akan berlaku mulai 29 Mei 2026 mendatang, sebagaimana tertulis di pengumuman.

Rebalancing ini kemudian akan berlaku efektif 1 Juni 2026.

Potensi Outflow Bagi Saham yang Terdepak

Pengumuman MSCI periode Mei 2026 amat jadi perhatian di tengah masih membekukan (interim freeze) penambahan konstituen dari saham Indonesia.

Terlebih MSCI Global Standard Index merupakan salah satu acuan investor di berbagai negara dalam berinvestasi baik dalam saham ataupun obligasi.

Pengukuran yang berlaku dalam MSCI Indonesia Index adalah kinerja saham–saham yang memiliki potensi terbaik daripada seluruh kategori. Standar perhitungan telah ditetapkan oleh Morgan Stanley Capital International sebagai sebuah perusahaan riset.

MSCI Mei 2026

Analis CGS International Hadi Soegiarto dalam risetnya menilai, arus dana keluar atau outflow dari pasar saham Indonesia diestimasikan mencapai US$1,8 miliar atau menyentuh Rp31 triliun imbas dikeluarkannya sejumlah saham Indonesia dari kategori MSCI Global Standard Indexes.

“Berdasarkan pola historis rebalancing, kami memperkirakan arus keluar dana sebesar US$1,8 miliar akan terjadi mendekati penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026,” kata Analis CGS International, Hadi Soegiarto dalam risetnya, mengutip Rabu (13/5/2026).

Hasil rebalancing turut membuat bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun dari 0,68% menjadi 0,57%.

Oleh karena itu, setiap kali terjadi perubahan dalam daftar konstituen, penting untuk memperhatikan siapa yang masuk dan keluar, karena hal ini dapat mempengaruhi arus dana (inflow–outflow) dan respons keputusan investasi investor asing serta dalam negeri.

(fad)

No more pages