“Saat saya ngomong dengan Bambang Patijaya, tadinya bilang enggak ada [LTJ primer]; ternyata ada. Ini sudah menajdi perhatian Badan Industri Mineral dan tentunya nanti yang ditugaskan ke depannya adalah Perminas [Perusahaan Mineral Nasional],” ungkap Irwandy.
Sebelumnya, pengembangan wilayah Mamuju sebagai proyek tambang LTJ juga telah dilakukan melalui rapat yang dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama dengan BPI Danantara melalui BIM di kantor Badan Pengaturan (BP) BUMN, Selasa (12/5/2026).
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Tri Winarno yang saat itu mewakili Kementerian ESDM mengatakan pertemuan mengatakan pertemuan dilakukan untuk melanjutkan ihwal potensi LTJ di wilayah tersebut.
"Pembahasan ini saja yang Mamuju, pengembangan seperti apa untuk rare earth elements," ungkap Tri kepada awak media.
Adapun, Kepala BIM Brian Yuliarto dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi XII DPR, Selasa (10/2/2026), pernah menjelaskan adanya potensi LTJ berupa neodymium-praseodymium (NDPR) serta terbium (Tb) dan dysprosium (Dy) di Mamuju.
Lebih lanjut, Brian mengatakan penelitian yang dilakukan BIM di wilayah itu nantinya akan melibatkan perguruan tinggi untuk menentukan teknologi yang bakal digunakan.
“Nah, inilah yang kita lakukan di Mamuju, kita coba teknologi beliau dari yang sudah dikembangkan di kampus dan lain-lainnya. Itu kita lakukan untuk mengekstraksi, mengubah dari mineral ore yang mengandung logam tanah jarang menjadi disebutnya mix oxide,” ungkap Brian.
Dalam data yang dihimpun Irwandy, terdapat 3 provinsi utama dengan potensi LTJ terbesar di Indonesia, di antaranya:
1. Sulawesi Barat
Pemegang sumber daya terbesar dengan 67.576 ribu ton bijih (85.441 ton logam)
2. Kepulauan Bangka Belitung
Peringkat kedua dengan 59.807 ribu ton bijih (lebih dari 28.793 ton logam)
3. Sumatra Utara
Memiliki sumber daya ketiga terbesar senilai 1.502 ribu ton bijih (lebih dari 2,39 ton logam).
(smr/wdh)



























