Logo Bloomberg Technoz

Kekhawatiran turunnya posisi Indonesia dari emerging ke frontier market bukan tanpa alasan. Status emerging market bukan label kategori pasar biasa, tapi jadi penentu utama arah aliran dana asing global yang berbasis indeks. 

Terkait penghapusan sejumlah saham big caps dari MSCI Global Standard Indexes, Stockbit menilai hal ini mencerminkan dampak penyesuaian free float yang lebih rendah oleh MSCI dengan menggunakan data kepemilikan lebih dari 1% yang diterbitkan KSEI.

Hasil Rebalancing MSCI

Berikut rincian hasil rebalancing untuk konstituen dari Indonesia, berdasarkan publikasi MSCI, Rabu (13/5/2026).

MSCI Global Standard Indexes

Addition: 0
Deleted

    • AMMN
    • BREN
    • TPIA
    • DSSA
    • CUAN
    • AMRT

MSCI Global Small Cap Indexes

Addition:

    • AMRT

Deleted

    • ANTM
    • AALI
    • BANK
    • BSDE
    • DSNG
    • SIDO
    • MIDI
    • MIKA
    • MSIN
    • TKIM
    • APIC
    • SSMS
    • TAPG

MSCI Global Micro Cap Indexes

Addition: 0
Deleted: 0

Sehingga, total ada 18 saham konstituen dari bursa saham Indonesia yang terdepak dari seluruh kategori indeks MSCI. Hasil rebalancing akan berlaku efektif pada 29 Mei 2026

MSCI akan melakukan review periode berikutnya pada 12 Agustus 2026. Hasil review periode ini akan berlaku pada 1 September 2026.

MSCI bekukan penyesuaian free float, rebalancing Februari batal (Diolah)

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia mengimbau para investor untuk perbanyak sikap wait & see sembari menunggu stabilisasi pasar.

Pasalnya, rebalancing MSCI berpotensi menambah outflow. Depresiasi rupiah juga menjadi tekanan tambahan.

"Perbanyak sikap wait & see menunggu market stabilizing, yang mana area support IHSG bisa diperpanjang sampai 6.745, atau harus menutup gap di kisaran 6.538-6.092. Dengan demikian artinya mengembalikan hampir semua kenaikan IHSG yang terjadi sepanjang 2025," jelas Liza, Rabu (13/5/2026).

Outflow Lebih dari Rp30 T

Analis CGS International Hadi Soegiarto dalam risetnya memperkirakan, arus dana keluar atau outflow dari pasar saham Indonesia diperkirakan mencapai US$1,8 miliar atau setara sekitar Rp31,5 triliun imbas dikeluarkannya sejumlah saham Indonesia dari kategori MSCI Global Standard Indexes.

“Berdasarkan pola historis rebalancing, kami memperkirakan arus keluar dana sebesar US$1,8 miliar akan terjadi mendekati penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026,” kata Analis CGS International, Hadi Soegiarto dalam risetnya, dikutip Selasa (12/5/2026).

Meskipun jumlahnya besar, Hadi menyebut bahwa volatilitas harga saham pada hari rebalancing biasanya terbatas. Hal itu dikarenakan investor telah mengantisipasi arus keluar dana pasif melalui aksi jual lebih awal atau pre-emptive selling, dan strategi berburu saham dengan harga murah atau bargain hunting.

Namun, hasil rebalancing tetap membuat bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (EM) turun dari 0,68% menjadi 0,57%.

Citi memproyeksikan angka outflow yang tidak terlalu berbeda jauh. Perkiraannya, akan ada outflow sebesar US$1,6 miliar atau setara sekitar Rp28 triliun pasca pengumuman rebalancing indeks oleh MSCI. 

Citi menyebut, arus keluar dana dari pasar domestik dipicu oleh perkiraan keputusan MSCI yang akan mengeluarkan DSSA dan BREN dari indeks. Sementara dalam skenario terburuknya, arus keluar dana pasif dari Indonesia diproyeksi dapat mencapai hingga US$2 miliar.

(dhf)

No more pages