Perselisihan ekonomi antara dua negara besar ini masih berlangsung dengan intens. AS dan China saling membatasi teknologi, mengancam memberi sanksi, dan hambatan lainnya yang masih berlaku.
Meskipun tarif yang diberlakukan Trump telah turun dari angka tertinggi 145% tahun lalu, pangsa AS dalam total ekspor China telah mencapai titik terendah sepanjang sejarah, yakni sekitar 9%, atau sekitar setengah dari puncaknya pada 2017–2018.
Namun, ledakan perdagangan di bidang AI menunjukkan sejauh mana integrasi yang masih mendekatkan dua ekonomi terbesar dunia melalui rantai pasokan teknologi global.
Dengan AS memimpin semua negara dalam investasi AI, China telah muncul sebagai pemasok terbesar di dunia untuk berbagai perangkat terkait AI tahun lalu, menurut penelitian yang dilakukan oleh para ekonom di Standard Chartered Plc. Meski pada saat bersamaan China masih jadi net importir untuk beberapa teknologi penting seperti chip canggih.
Selama Trump menjabat presiden AS kali ini, nilai ekspor sirkuit terpadu China telah meningkat sekitar dua kali lipat, mencapai US$31 miliar pada April untuk pertama kalinya. Walau dipengaruhi oleh efek dasar yang rendah, total pengiriman ke AS melonjak paling tinggi dalam lebih dari setahun setelah penurunan dua digit sepanjang sebagian besar tahun 2025.
Demikian pula, penjualan semikonduktor dari produsen utama Korea Selatan dan Taiwan juga melonjak dalam beberapa bulan terakhir.
Kontrol ekspor AS telah lama menjadi titik masalah dalam diskusi perdagangan antara Washington dan Beijing. Pembatasan kemampuan Tiongkok untuk memperoleh teknologi Amerika memicu kebuntuan tahun lalu yang membuat Beijing memberlakukan pembatasan pengiriman logam tanah jarang ke pelanggan AS.
Kedua belah pihak mengumumkan gencatan senjata pada bulan Oktober usai pertemuan terakhir Trump dengan Xi, di mana AS setuju untuk menangguhkan sementara selama satu tahun sejumlah pembatasan terkait teknologi sebagai imbalan atas kembalinya akses terhadap unsur tanah jarang. Langkah-langkah tersebut kemungkinan akan dibahas pada akhir pekan ini.
Walau China tidak memiliki pengetahuan untuk memproduksi komponen paling mutakhir karena larangan ekspor yang diberlakukan oleh AS, negara ini semakin mendominasi apa yang disebut chip lawas, yang cenderung menggunakan teknologi lama dan tetap penting bagi berbagai macam perangkat elektronik.
Rasio kemandirian China dalam chip AI telah meningkat dari 10% lima tahun lalu menjadi sekitar 41% pada 2025, menurut Morgan Stanley, yang memperkirakan angka tersebut akan mencapai 86% pada 2030.
Sejalan pergeseran perdagangan di Asia ke sektor teknologi tinggi, hal ini memberikan keleluasaan bagi ekonomi termasuk China, sementara produsen berjuang menghadapi kenaikan biaya bahan baku yang terkait dengan perang di Iran.
Selain memberi tekanan pada industri padat karya tradisional mulai dari produsen mainan hingga produsen pakaian jadi, konflik tersebut juga menyebabkan gangguan lebih luas. Meskipun nilai impor minyak mentah Tiongkok meningkat 13% dari tahun lalu, volumenya anjlok 20%, yang mencerminkan lonjakan harga.
“Pada saat eksportir yang terkait dengan AI menikmati lonjakan harga chip, seluruh China menanggung beban kenaikan harga minyak dan gas,” kata para ekonom Nomura yang dipimpin oleh Ting Lu dalam sebuah laporan.
Pengiriman ke Timur Tengah dan Afrika Utara kemungkinan terus menurun setelah anjlok 43% pada bulan Maret dibandingkan tahun lalu. Seberapa besar penurunan lebih lanjut akan menjadi lebih jelas ketika Tiongkok merilis data ekspor terperinci pada akhir bulan ini.
Krisis minyak turut memberikan peluang bagi produsen mobil China, terutama produsen kendaraan listrik. Hal ini menjadikan mobil sebagai sumber kekuatan ekspor utama lainnya, terutama karena penjualan mobil di dalam negeri anjlok.
Ekspor kendaraan China melonjak 54% pada empat bulan pertama 2026, setelah naik 21% tahun lalu. Nilai kendaraan yang dikirim ke luar negeri mencapai angka tertinggi kedua dalam sejarah pada bulan April, yaitu lebih dari US$16 miliar.
Pada bagian terpisah, booming AI mendorong ekspor dan impor China ke rekor tertinggi, dengan pembelian dari luar negeri pada bulan April melonjak 25% dari tahun lalu menjadi US$275 miliar. Impor dari Korea Selatan tumbuh lebih dari 60% dan impor dari Taiwan meningkat lebih dari 20%.
Bahkan sebelum lonjakan perdagangan bulan lalu, para ekonom telah menaikkan perkiraan pertumbuhan impor tahunan di Tiongkok, memperkirakan impor akan melampaui laju ekspor untuk pertama kalinya sejak 2021.
Kenaikan harga chip akibat kelangkaan semikonduktor global menjadi faktor utama di balik lonjakan angka ekspor pada bulan April. Meskipun chip berkontribusi sebesar 4,9 poin persentase terhadap pertumbuhan ekspor Tiongkok secara keseluruhan, efek harga saja sudah menyumbang 4,5 poin persentase, menurut Nomura.
“Prospek ekspor China tetap positif dalam jangka pendek, tetapi prospek jangka panjang akan bergantung pada kemampuan China untuk mengatasi hambatan teknologi,” terutama pengembangan chip presisi tinggi, menurut para ekonom ANZ Group.
“Peningkatan cepat dalam kemandirian chip dapat menyebabkan pelonggaran kontrol ekspor chip AS. Hal ini menunjukkan bahwa ruang lingkup untuk keterlibatan komersial tetap ada dan mengindikasikan kemungkinan pergeseran dari pemutusan total menuju pengekangan selektif,” kata mereka dalam sebuah laporan.
(bbn)































