“Hal itu berpotensi memunculkan risiko terhadap pasokan energi nasional, khususnya karena Indonesia masih bergantung dari impor energi untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Kondisi tersebut mendorong perlunya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri demi memperkuat ketahanan energi nasional, melalui peningkatan produksi dan percepatan eksplorasi di sektor hulu migas,” jelasnya.
Yang terjadi pada fluktuasi harga minyak, gas, dan juga komoditas energi lainnya usai perang Iran versus Amerika dan Israel pecah, menurutnya, mencerminkan rantai pasok energi sangat rentan terhadap gejolak geopolitik.
“Indonesia perlu mengantisipasi hal ini dengan memperkuat produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada impor,” ujar Marjolijn.
Dia menambahkan bahwa dinamika geopolitik global saat ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan produksi migas dalam negeri.
Ia juga menilai tantangan industri hulu migas saat ini tidak hanya terletak pada aspek teknis, tetapi juga pada kebutuhan investasi dan tingginya risiko eksplorasi. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah yang konsisten, kepastian hukum, percepatan perizinan, serta skema fiskal yang kompetitif menjadi kunci utama dalam menarik investor.
“Penemuan cadangan baru menjadi kunci. Tidak cukup hanya mengandalkan proyek yang sudah berjalan. Diperlukan eksplorasi yang lebih agresif serta kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri,” katanya.
Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah melaporkan produksi minyak mentah Indonesia sepanjang Januari—Maret 2026 mencapai 572.724 barel per hari (bph).
Dari besaran itu, khusus produksi minyak bumi saja dilaporkan sebesar 490.589 bph, sedangkan sisanya terdiri atas kondensat 55.851 bph, natural gas liquid (NGL) hulu 21.595 bph, dan NGL gas terproses 4.239 bph.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan produksi minyak mentah, kondensat, dan NGL pada Januari 2026 mencapai 528.108 bph, lalu Februari meningkat menjadi 590.627 bph, dan Maret sebesar 599.862 bph.
Djoko menjelaskan produksi minyak mentah Indonesia sempat turun pada Januari 2026 gegara pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) mengalami kebocoran pada tahun ini, hingga menyebabkan produksi minyak di Blok Rokan turun.
“Januari turun karena pipa TGI pada 2 Januari putus, sehingga tidak bisa mensuplai gas untuk pembangkit listrik MCTN di Rokan, sehingga turunnya sangat besar sekali. Alhamdulillah pipa TGI sudah selesai, tetapi akhir Maret kemarin berdasarkan pigging itu masih ditemukan tiga titik yang rawan, sehingga dalam hal ini dioperasikan belum maksimal,” kata Djoko dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI awal April 2026 lalu.
Adapun, target produksi minyak siap jual (lifting) nasional dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar 610.000 barel per hari (bph). Angka ini meningkat secara bertahap dibandingkan target lifting minyak pada APBN tahun 2025 yang berada di angka 605.000 barel per hari.
(smr/ros)






























