"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," ujar Destry dalam keterangan tertulis, Selasa (12/5/2026).
Tidak Ada Buffer
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyebut, meningkatnya kebutuhan dolar AS akibat repatriasi dividen memang selalu terjadi tiap tahun. Situasi ini terjadi secara musiman hingga muncul istilah ‘Sell in May and Go Away’.
Namun, justru karena fenomena musiman, maka dampaknya tidak terlalu signifikan terhadap nilai tukar Rupiah.
“Pembayaran dividen berlangsung setiap tahun dan tidak langsung membuat Rupiah jeblok seperti saat ini. Jadi tidak bisa dibilang sebagai alasan utama,” kata Liza lewat sambungan telepon pada Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, tekanan terhadap Rupiah juga datang dari kondisi global, termasuk kenaikan harga minyak dunia seiring meningkatnya risiko geopolitik. Potensi gangguan di Selat Hormuz sebagai jalur dari sekitar 20% suplai minyak global, dinilai dapat berdampak pada perekonomian dan memicu risiko energy shock.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi, yang menjadi perhatian global dan memengaruhi arah kebijakan moneter, termasuk di Amerika Serikat (AS). Liza mengatakan, jika inflasi meningkat maka bank sentral AS atau The Fed tidak bisa menurunkan tingkat suku bunga acuan.
Masalahnya, kondisi domestik juga dinilai kurang baik. Tekanan juga dipengaruhi oleh kondisi fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah, yakni jumlah utang yang mendekati Rp10.000 triliun, dengan sekitar Rp800 triliun jatuh tempo pada tahun ini, sementara penerimaan negara dari pajak dinilai belum optimal.
“Jadi bagaimana rasio utang terhadap GDP kita? Walaupun kata Pak Purbaya masih 40% atau masih dalam kategori normal, tapi ini membesar. Selain itu sovereign downgrade kita terjadi di mana-mana. Dari institusi finansial global, dari Moody's, Fitch, UBS, Nomura, dan Goldman Sachs. Jadi nilai tawar Indonesia, bargaining power kita semakin tidak menarik,” lanjut Liza.
"Jadi, outflow sebesar itu sangat berkaitan dengan rupiah, ditambah lagi dengan sentimen MSCI," kata Liza.
Analis Henan Sekuritas, James Stanley menyampaikan bahwa pelemahan Rupiah saat ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor musiman dan struktural. Ia menjelaskan bahwa periode kuartal kedua memang merupakan siklus repatriasi dividen yang meningkatkan permintaan dolar AS, namun kondisi tersebut diperparah oleh arus modal keluar dari pasar saham dan obligasi, sebagai respons terhadap ketidakpastian MSCI dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal.
“Selain itu, tingginya harga energi turut membebani neraca pembayaran dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Dengan cadangan devisa yang terbatas, tekanan harga energi dan outflow pasar modal diperkirakan akan tetap menjaga Rupiah di posisi lemah dalam jangka pendek,” kata James.
(dhf)



























