Oleh karena itu, pemerintah diminta waspada terhadap potensi penurunan sentimen konsumen tersebut.
“Memang sentimen terkait faktor global ini menjadi sesuatu yang mempengaruhi pada akhirnya persepsi masyarakat, confidence masyarakat, sehingga ini harus kita antisipasi ke depan,” tutur Dian.
Di saat mesin konsumsi melandai, sektor investasi diharapkan mampu menjadi penyeimbang pertumbuhan. Menyitir data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi asing pada kuartal I-2026 mencapai Rp250 triliun atau tumbuh 8,5% secara tahunan atau year on year (yoy). Penyerapan tenaga kerja juga mencatatkan performa positif dengan pertumbuhan 18,9% (yoy) atau mencapai 706.569 orang.
“Jadi [investasi] sudah mulai recovery kuartal I-2026 di tengah sentimen global yang terjadi. Harapannya tentunya ke depan ini kita bisa terus pertahankan dari sisi investasi,” ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membidik pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2026 mencapai 5,7%. Sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi di sepanjang tahun 2026 yang mencapai 6%.
“Pertumbuhannya? 5,7%. Jadi pada kuartal ke-II, 5,7%” kata Purbaya dalam Media Briefing, Jumat (24/4/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah bersiap menggelontorkan stimulus tambahan guna menjaga tren positif pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026. Langkah antisipatif ini diambil setelah ekonomi RI tercatat tumbuh 5,61% pada kuartal I, meski kini dibayangi risiko ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi dunia.
Purbaya menyatakan pemerintah akan terus mencermati faktor ekonomi makro, mulai dari nilai tukar hingga daya beli masyarakat, untuk memastikan mesin pertumbuhan tidak melambat.
“Kita waspadai semua kendala yang mungkin timbul dan kita lihat semua faktor ekonomi makro yang ada. Dan kelihatannya pemerintah juga akan masih memberikan stimulus tambahan bagi perekonomian di triwulan kedua tahun 2026 ini,” ujar Purbaya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Kamis (7/5/2026).
(lav)






























