Dinamika di Timur Tengah masih jadi pemberat buat harga emas. Bloomberg News mengabarkan, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal perdamaian baru yang diusulkan Iran.
“Sama sekali tidak bisa diterima,” demikian cuit Trump di media sosial terkait proposal Iran.
Perkembangan ini membuat harga minyak kembali meninggi. Pada pukul 08:20 WIB, harga minyak jenis brent melesat 3,2% ke US$ 104,53/barel.
Saat harga energi masih mahal, dunia akan dihantui oleh risiko inflasi tinggi. Alhasil, bakal sulit buat bank sentral di berbagai negara untuk melonggarkan kebijakan moneter melalui penurunan suku bunga acuan.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga belum turun.
(aji)



























