Dia menambahkan, akuisisi di luar negeri memungkinkan perusahaan mendapatkan cadangan baru secara instan, terutama untuk mineral kritis (emas, tembaga, nikel) yang mendukung transisi energi.
Alasan lainnya adalah terkait diversifikasi revenue, contohnya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berusaha mengurangi ketergantungan pada batubara dan memperkuat portofolio ke komoditas mineral lain (tembaga, emas, bauksit) untuk menjamin keberlanjutan bisnis jangka panjang.
“Alasan selanjutnya adalah terkait dengan lindung nilai, karena membuat aset dalam valuta asing menjadi pilihan investasi (safe haven) untuk menjaga nilai aset dan pendapatan perusahaan,” ungkapnya.
Ekspansi di luar Indonesia dinilai juga lebih mendukung adanya pertambahan akses tambang non-greenfield atau bukan wilayah (proyek) pertambangan baru yang harus dibangun dari nol.
“Ada kecepatan untuk berpotensi daripada membangun tambang baru atau greenfield,” tambahnya.
Adapun, Abida Massi Armand, Fundamental Analyst di BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyebut alasan lain misalnya keterbatasan aset domestik karena mayoritas tambang mineral skala besar sudah dimiliki dan tidak dijual.
“Kepastian regulasi di luar negeri yang lebih stabil dibanding kompleksitas perizinan domestik, dan kebutuhan diversifikasi ke mineral kritis seiring transisi energi global. Meski begitu, pelemahan rupiah bukan pendorong utama namun memberikan insentif tambahan karena aset berdenominasi dolar relatif menguat,” jelasnya.
BRIDS menilai bahwa tren hingga akuisisi di luar negeri akan berpotensi meningkat hingga akhir 2026, terutama untuk mineral kritis dan emas, dengan emiten berarus kas kuat sebagai pelaku paling aktif.
“BUMI paling agresif dengan pipeline Loyal Metals, Wolfram, Jubilee, dan Laman Mining. UNTR masih memantau aset di Australia Barat dan Queensland. Tren berlanjut selama harga mineral kritis tinggi dan cadangan domestik terus menyusut,” ungkapnya.
Sebagai tambahan, di tahun ini ekspansi tambang di luar tercatat dilakukan oleh banyak emiten tambang diantaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang berencana mengakuisisi 100% saham perusahaan tambang emas dan tembaga asal Australia, Loyal Metals Ltd, dengan nilai sekitar US$79 juta atau setara hampir Rp1 triliun.
Ada juga PT Petrosea Tbk (PTRO) yang sudah merealisasikan akuisisi aset tambang di Papua Nugini yaitu mengambil alih seluruh saham perusahaan jasa tambang HBS (PNG) Limited beserta entitas anaknya (Grup HBS). Nilai transaksi mencapai sekitar A$40 juta atau setara US$25,76 juta,
PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) juga telah menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi 51% saham tambang batu bara metalurgi Dawson Complex di Australia dengan nilai sekitar US$455 juta.
Emiten tambang plat merah, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga mengungkap potensi ekspansi lokasi tambang di Arab Saudi. Sebelumnya Corporate Secretary (Sekretaris Perusahaan) PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) sempat menyampaikan bahwa keterlibatan tersebut merupakan bagian dari upaya Perseroan dalam menjajaki peluang ekspansi portofolio sumber daya mineral secara selektif dan terukur, sejalan dengan strategi jangka panjang perusahaan.
“Saat ini, Perseroan masih terus melakukan monitoring terhadap perkembangan situasi dan akan mengevaluasi langkah selanjutnya dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta mempertimbangkan aspek risiko dan nilai tambah bagi perusahaan,” ungkap dia.
Dia menambahkan, sejalan dengan mandat Perseroan dalam memperkuat basis sumber daya emas, ANTAM akan tetap berfokus pada penguatan portofolio emas melalui optimalisasi aset eksisting, penjajakan sumber daya baru, serta penguatan rantai pasok guna mendukung keberlanjutan bisnis emas ke depan.
(ain)





























