Di sisi lain, dia mengatakan jika subsidi yang diberikan masih serupa dengan LPG, maka harga jual CNG 3 kg dapat lebih murah dibandingkan Gas Melon bersubsidi
“Kalau kita mau membantu rakyat lagi, kita akan mengurangi beban rakyat dalam konteks pembelian,” ujar Bahlil.
Ihwal besaran subsidi untuk CNG 3 kg, Bahlil menyatakan masih mengkaji besarannya dan mekanisme pemberian subsidi.
“Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah, tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca,” ungkap dia.
Sebelumnya, Bahlil menjelaskan konsumsi LPG Indonesia mencapai 8,6 juta ton per tahun. Dari besaran tersebut, produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6—1,7 juta ton. Untuk itu, sekitar 7 ton sisanya harus dipasok dari impor.
Bahlil menyatakan hal tersebut membuat subsidi LPG yang digelontorkan oleh pemerintah cukup besar. Total devisa yang keluar untuk mengimpor LPG pun mencapai Rp137 triliun.
Setelah itu, pemerintah menggelontorkan sekitar Rp80—Rp87 triliun untuk menyubsidi harga jual LPG 3 Kg.
Bahlil menegaskan bahwa tingginya impor LPG dikarenakan pasokan gas bumi Indonesia minim memiliki kandungan propana (C3) dan butana (C4). Dua unsur tersebut merupakan elemen inti dari LPG.
“Kapasitas terpasang 1,9 juta [ton], tetapi yang bisa produksi hanya 1,6—1,7 juta [ton] maksimum, jadi kita impor 7 juta ton per tahun,” ujar Bahlil dalam pidatonya di acara Himpunan Alumni IPB, ditayangkan daring, Sabtu (2/5/2026).
Adapun, dalam data Ditjen Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM, dijelaskan bahwa kebutuhan LPG sepanjang Januari—Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari.
Secara keseluruhan, sepanjang periode tersebut kebutuhan LPG mencapai 1,56 juta metrik ton. Dari besaran itu, sekitar 1,31 juta ton atau 83,97% pasokan LPG didapatkan dari impor dan produksi dalam negeri hanya sebesar 130.000 metrik ton.
Berdasarkan negaranya, impor LPG yang dilakukan Indonesia sampai 1 April 2026 mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat (AS), dengan porsi sebesar 68,91% dari total impor.
Posisi kedua, ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) dengan porsi impor sebesar 11,83% dari total impor. Berikutnya, merupakan Arab Saudi dengan total impor sebesar 7,36% dari total impor.
Keempat, Qatar dengan porsi impor 5,21% dari total impor. Lalu, Australia dengan porsi impor 3,81% dari total impor. Selanjutnya, 2,61% impor LPG didatangkan dari Kuwait.
-- Dengan asistensi Dovana Hasiana
(azr/wdh)



























