Permintaan pada seri bertenor pendek seperti SPNS01062026 turun 32,7% dari Rp4,19 triliun jadi Rp2,82 triliun. Disusul seri tenor pendek lainnya SPNS12102026 juga turun 17,4%, menjadi Rp1,33 triliun.
Sementara seri SPNS03022027 relatif stabil dengan penurunan tipis sekitar 4,3%, menjadi Rp4,2 triliun. Ini mengindikasikan bahwa segmen tenor pendek mulai kehilangan daya tariknya.
Begitu juga dengan permintaan pada seri tenor panjang, yang pada lelang sebelumnya jadi primadona, ikut turun. Permintaan terhadap PBS038 (tenor 23 tahun, jatuh tempo 2049) turun drastis 49,5%, dari Rp8,46 triliun menjadi Rp4,27 triliun.
PBS034 (tenor 13 tahun, jatuh tempo 2039) juga turun 38,8%, dari Rp3,15 triliun menjadi Rp1,93 triliun. Bahkan dengan masuknya seri baru PBS005 (tenor 17 tahun, jatuh tempo 2043) tidak mampu mengimbangi kekuatan permintaan pada lelang sebelumnya.
Sepertinya, animo investor terhadap tenor panjang mulai redup. Begitu juga dengan investor institusi yang sebelumnya agresif mengunci imbal hasil, kini mulai tampak lebih hati-hati, lantaran ketidakpastian global masih berkelindan dan menekan nilai tukar rupiah.
Sementara itu, respons pelaku pasar terhadap segmen tenor menengah juga masih dingin, dan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Pada lelang 21 April, seri PBS040 mengantongi penawaran Rp2,37 triliun, dan pada lelang 5 Mei angkanya makin susut ke Rp1,26 triliun.
Biaya Utang Naik
Pada lelang kemarin, imbal hasil ikut meningkat di hampir semua tenor. Untuk SPN-S, imbal hasil yang sebelumnya berada di kisaran 4,87–5,46% naik menjadi sekitar 5,5–6,09%. Kenaikan ini berkisar antara 60 hingga 80 basis poin (bps).
Pada seri PBS, kenaikan imbal hasil juga cukup signifikan: PBS030 naik dari 5,92% menjadi 6,42% (+50 bps), PBS040 dari 6,10% menjadi 6,48% (+38 bps), dan PBS038 dari 6,75% menjadi 6,81% (+6 bps).
Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan kenaikan premi risiko yang diminta investor. Dampaknya, pemerintah harus membayar lebih mahal untuk menarik dana dari pasar.
(dsp)


























