Pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama tahun ini terakselerasi karena peran fiskal yang sangat dominan. Belanja pemerintah tercatat melonjak 21,81% yoy, angka ini terakselerasi dari kuartal sebelumnya yang hanya 4,55%.
Kondisi ini mencerminkan adanya front-loading fiskal, alias percepatan realisasi anggaran di awal tahun. Program-program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), belanja modal pemerintah seperti Koperasi Desa/Perkotaan Merah Putih, dan belanja infrastruktur masih jadi penopang utama pertumbuhan kuartal pertama 2026.
Dalam jangka pendek, strategi ini memang efektif untuk mendongkrak permintaan domestik. Tapi, dalam jangka menengah dan panjang, ketergantungan pada dorongan fiskal bisa menimbulkan pertanyaan lebih lanjut. Seberapa kuat daya tahan pertumbuhan ekonomi apabila ruang anggarannya mulai menyempit?
Investasi, yang seharusnya jadi fondasi pertumbuhan jangka panjang malahan memberi sinyal lebih moderat. Pembentukan Modal Tetap Bruto (GFCF) hanya mampu tumbuh 5,96% yoy, posisi ini melambat dari capaian kuartal sebelumnya 6,12%.
Hal ini menunjukkan bahwa dorongan investasi masih sangat bergantung pada belanja pemerintah, bukan ekspansi sektor swasta yang bersifat organik. Padahal, tanpa peran swasta yang kuat, pertumbuhan ekonomi cenderung rapuh dari sisi produktivitas.
Sementara itu, dari sisi eksternal sinyal peringatan makin nyaring terdengar. Kemarin, BPS juga mencatat ekspor hanya tumbuh 0,9% yoy, turun tajam dari 3,25%. Sebaliknya, impor melonjak 7,18%. Kondisi ini berpotensi memperlebar neraca perdagangan, meski kuartal I-2026 masih tercatat surplus.
Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), menilai pertumbuhan kuartal selanjutnya pada tahun ini kemungkinan besar akan tetap didorong oleh fiskal. Kondisinya mirip dengan pola yang diamati pada paruh kedua 2025, dengan langkah-langkah fiskal memainkan peran utama dalam mendukung konsumsi rumah tangga dan aktivitas investasi.
Namun ia menambahkan, strategi pertumbuhan ini mungkin menghadapi hambatan yang signifikan, terutama dari ketidakpastian eksternal yang berasal dari konflik Timur Tengah, yang telah mendorong harga minyak lebih tinggi.
Kenaikan harga minyak ini akan semakin membatasi ruang fiskal untuk kebijakan ekspansif lebih lanjut sekaligus menimbulkan risiko kenaikan inflasi.
Meski begitu, Faisal memperkirakan pertumbuhan ekonomi Tanah Air akan tetap tangguh pada 2026. “Meskipun tunduk pada beberapa risiko utama yang perlu dipantau secara cermat,” katanya.
Risiko Eksternal
Secara lebih rinci, risiko utama terhadap prospek ekonomi Indonesia tahun 2026 diperkirakan akan tetap didominasi oleh faktor eksternal. Ketidakpastian kemungkinan besar berasal dari perang dagang yang sedang berlangsung, meningkatnya ketegangan geopolitik, dan pemulihan ekonomi China yang masih lesu.
Konflik perdagangan yang berkepanjangan dan pertumbuhan yang lebih lambat di China dapat membebani neraca eksternal Indonesia dengan membatasi kinerja ekspor, sementara impor diperkirakan akan menguat sejalan dengan sikap kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah.
Selain itu, konflik berkepanjangan di Timur Tengah dapat membuat harga energi global tetap tinggi, menciptakan tekanan ke atas pada inflasi, mengurangi ruang untuk penurunan suku bunga BI lebih lanjut, dan meningkatkan tekanan pada anggaran negara.
Dalam lingkungan ini, peran anggaran negara sebagai peredam guncangan, yang mengurangi dampak kenaikan harga energi global terhadap inflasi domestik sekaligus menjaga daya beli rumah tangga, akan semakin penting, meskipun hal ini juga dapat membatasi ruang lingkup kebijakan fiskal ekspansif lebih lanjut, khususnya pada paruh kedua tahun 2026.
Pertumbuhan Ekonomi 2026
Faisal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,1-5,3%. Sementara, data survei yang dihimpun Bloomberg memprediksi pertumbuhan ekonomi Ibu Pertiwi lebih rendah yaitu di 5%, dengan rincian:
- Kuartal I-2026: 5,3%
- Kuartal II-2026: 4,9%
- Kuartal III-2026: 4,8%
- Kuartal IV- 2026: 4,5%
Sehingga, pertumbuhan ekonomi Nusantara pada 2026 diperkirakan akan sebesar 5%, begitu juga dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2027 yang sebesar 5%.
(dsp/aji)






























