Logo Bloomberg Technoz

Ishak menekankan bahwa tekanan tinggi tersebut menuntut standar keselamatan yang jauh lebih ketat karena kebocoran atau kerusakan tabung dapat menimbulkan bahaya yang signifikan.

Saluran bahan bakar CNG terpasang pada truk selama operasi pengisian bahan bakar di Montgomery County Fleet Management Services, AS./Bloomberg

Meskipun begitu, gas metana atau C1 yang terkandung dalam CNG memiliki sifat yang lebih ringan dari udara sehingga mudah menguap.

Ishak menilai secara keekonomian, gas alam lebih cocok disalurkan melalui jaringan gas untuk rumah tangga atau jargas.

Dia mencatat selama ini CNG sudah digunakan untuk armada bus TransJakarta, taksi, bajaj, industri, dan perhotelan.

“Secara keekonomian pun CNG lebih murah dari LPG, tetapi keunggulan ini baru terasa jika infrastrukturnya sudah tersedia dan distribusinya matang seperti LPG saat ini,” tegas dia.

Berdasarkan penjelasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), CNG merupakan bahan bakar gas yang dibuat dengan mengompresi gas alam yang terdiri dari C1 atau metana dan C2 atau etana.

Kemudian, CNG disimpan dan didistribusikan dalam bejana tekanan atau tabung pada tekanan tinggi, antara 200 hingga 250 bar (setara 2.900 hingga 3.600 psi).

Ketahanan tabung juga diklaim dapat mencapai 650 baru atau 9.427 psi. Dengan begitu, tabung CNG bakal memiliki toleransi yang besar untuk kebutuhan keamanan.

Adapun, praktisi senior industri migas Hadi Ismoyo mengatakan kapasitas produksi CNG Indonesia mencapai sekitar 30—50 juta standar kaki kubik per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD).

Hadi mengatakan kapasitas produksi itu sebagian besar terpakai untuk kawasan-kawasan industri dan pabrik offgrid dengan modul 40 kaki (feet) CNG.

Namun, pengembangan CNG yang dikemas dalam format tabung mini berukuran 3 kg — yang diwacanakan untuk menggantikan impor LPG — masih sangat kecil volumenya.

"Jika pemerintah serius akan konversi LPG 3 kilogram ke CNG tabung mini, perlu dibangun Mother Station di sepanjang pipa gas trans Jawa dari Gresik, Semarang, Cirebon. Tersambung dengan Terminal Regas di Teluk Jakarta sebesar 300 MMSCFD dan Terminal Regas di Sidoarjo sebesar 400 MMSCFD," ujar Hadi saat dihubungi, Senin (4/5/2026).

Menurut Hadi, kapasitas produksi eksisting tersebut sebenarnya sangat cukup melayani tabung CNG mini di Pulau Jawa yang setara dengan 70% konsumen LPG nasional.

Sementara itu, sumber gasnya bisa diambil dari proyek gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Tangguh atau Bontang.

Menyitir situs resmi Kementerian ESDM, terdapat 33 badan usaha niaga CNG di Indonesia.

Salah satunya adalah PT Gagas Energi Indonesia, anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN. Saat ini, PGN Gagas mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di 7 provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari untuk layanan CNG masyarakat atau Gasku.

Untuk industri, PGN Gagas melayani lebih dari 600 pelanggan dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 million british thermal unit (MMBtu) sepanjang 2025.

Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengungkapkan pada tahun lalu perseroan penyaluran 4,6 juta MMBtu gas bumi melalui layanan CNG dan LNG.

Akhir pekan lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan berencana untuk mengembangkan CNG dengan format tabung 3 kg.

Bahlil mengklaim penggunaan CNG memiliki biaya yang lebih murah sekitar 30% hingga 40%, tetapi dia tak menjelaskan pembandingnya. Dia juga mengklaim sejumlah industri perhotelan dan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah menggunakan CNG sebagai sumber api dalam proses pemasak.

“CNG ini adalah sama juga gas, tetapi dia bukan LPG, dan sekarang sudah dipakai untuk hotel, restoran, dan beberapa [dapur] MBG-MBG. Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat dan ini cost lebih murah 30%—40%,” kata Bahlil dalam pidatonya di acara Himpunan Alumni IPB, Sabtu (2/5/2026).

(azr/wdh)

No more pages