Transaksi dilakukan melalui skema scheme of arrangement, yakni mekanisme akuisisi yang harus mendapat persetujuan pemegang saham perusahaan target. Untuk memastikan kesepakatan tercapai, BUMI menawarkan harga dengan premi signifikan di atas harga pasar saham Loyal Metals.
Melalui akuisisi ini, BUMI akan memperoleh akses ke sejumlah aset tambang strategis, termasuk proyek emas dan tembaga di Queensland, Australia, yang dikenal memiliki riwayat produksi besar.
Selain itu, Loyal Metals juga memiliki eksposur ke proyek lithium di Kanada, yang dinilai memiliki prospek tinggi seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku baterai kendaraan listrik.
PT Petrosea Tbk (PTRO)
PTRO menjadi salah satu emiten yang sudah merealisasikan akuisisi aset tambang di luar negeri, dengan fokus ekspansi ke Papua Nugini sebagai bagian dari strategi global perusahaan.
Petrosea mengambil alih seluruh saham perusahaan jasa tambang HBS (PNG) Limited beserta entitas anaknya (Grup HBS). Nilai transaksi mencapai sekitar A$40 juta atau setara US$25,76 juta, dengan penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat pada Agustus 2025.
Akuisisi ini memberi Petrosea akses langsung ke ekosistem tambang emas di Papua Nugini, karena Grup HBS dikenal sebagai penyedia jasa pertambangan dan konstruksi yang terlibat dalam sejumlah proyek emas besar di negara tersebut. Selain layanan kontraktor tambang, HBS juga memiliki bisnis distribusi alat berat, mesin, hingga dukungan logistik pertambangan yang terintegrasi.
Manajemen Petrosea menyebut aksi ini sebagai bagian dari strategi ekspansi internasional sekaligus diversifikasi ke sektor mineral, khususnya emas. Tak berhenti di situ, Petrosea juga melanjutkan langkah ekspansi dengan menjajaki investasi di perusahaan tambang emas dan tembaga Tolu Minerals Limited.
Melalui pembelian instrumen convertible note senilai sekitar US$23,75 juta, Petrosea berpotensi mengonversinya menjadi kepemilikan saham di perusahaan tersebut.
Aset utama Tolu Minerals berada di proyek emas Tolukuma di Papua Nugini, yang dinilai memiliki potensi produksi dalam waktu dekat serta berada di kawasan Pacific Ring of Fire yang kaya mineral.
PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID)
DOID menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi 51% saham tambang batu bara metalurgi Dawson Complex di Australia dengan nilai sekitar US$455 juta. Akuisisi ini dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan tambang global Peabody Energy, di mana aset tersebut awalnya berasal dari portofolio Anglo American.
Melalui transaksi ini, DOID berpotensi menjadi pemegang kendali atas salah satu tambang batu bara kokas terbesar di Australia yang berlokasi di Queensland. Tambang tersebut memiliki kapasitas produksi lebih dari 8 juta ton per tahun dan umur tambang panjang yang bisa mencapai lebih dari 50 tahun.
Namun dalam perkembangannya, rencana akuisisi ini tidak berjalan mulus. Kesepakatan pembelian akhirnya dibatalkan setelah mitra transaksi, Peabody, mengakhiri perjanjian dengan Anglo American akibat tidak tercapainya kesepakatan terkait kondisi material (material adverse change).
Selain Dawson, DOID juga telah lebih dulu mengakuisisi aset tambang di luar negeri seperti Atlantic Carbon Group di Amerika Serikat, serta mengambil posisi strategis di perusahaan tambang Australia 29Metals Limited untuk mendapatkan eksposur ke komoditas tembaga dan seng.
PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE)
NINE menjadi salah satu emiten yang mulai masuk ke sektor tambang global melalui rencana akuisisi aset di Mongolia. Aksi korporasi tersebut dilakukan melalui pengamanan opsi pembelian aset tambang milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR), yang merupakan bagian dari Poh Group.
Nilai indikatif aset yang diincar mencapai sekitar US$150 juta atau setara lebih dari Rp2 triliun, meski nilai final transaksi masih akan ditentukan berdasarkan penilaian independen.
Aset yang dituju berada di Mongolia dan mencakup dua konsesi tambang batu bara dan semi-soft coking coal, yang seluruhnya dimiliki oleh PGGR. NINE mendapatkan hak opsi untuk membeli aset tersebut dalam jangka waktu sekitar sembilan bulan sejak penandatanganan perjanjian pada akhir 2025. Namun, hingga kini transaksi tersebut masih dalam tahap penjajakan dan belum final.
PT United Tractors Tbk (UNTR)
Manajemen UNTR menyatakan tengah menjajaki akuisisi tambang mineral di sejumlah negara, terutama Australia dan Kanada. Fokusnya berada pada komoditas non-batubara seperti emas dan nikel, sejalan dengan upaya perusahaan menyeimbangkan portofolio pendapatan yang selama ini masih didominasi batu bara.
Langkah ekspansi ke luar negeri ini didorong oleh keterbatasan aset tambang besar di dalam negeri yang sebagian besar sudah dimiliki pihak lain dan tidak tersedia untuk dijual. Karena itu, UNTR melihat luar negeri sebagai sumber cadangan baru yang lebih terbuka untuk diakuisisi.
Dari sisi pendanaan, perusahaan menegaskan memiliki kapasitas finansial yang cukup kuat untuk mengeksekusi akuisisi kapanpun peluang yang tepat muncul. Kebutuhan belanja modal untuk aksi korporasi tersebut diperkirakan bisa mencapai US$500 juta hingga US$1 miliar per tahun, dengan sumber utama berasal dari kas internal dan opsi pembiayaan eksternal jika diperlukan.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Emiten pelat merah ini mempertimbangkan akuisisi tambang emas baru, baik di dalam negeri maupun luar negeri, untuk memperkuat portofolio dan rantai nilai bisnis.
Manajemen Antam mengungkapkan bahwa perseroan telah membidik sejumlah wilayah potensial di luar Indonesia, termasuk kawasan Timur Tengah dan Kazakhstan, baik melalui skema akuisisi langsung maupun partisipasi dalam lelang internasional.
Langkah ini dilakukan untuk mencari sumber cadangan baru di tengah menurunnya umur tambang emas domestik, terutama tambang Pongkor yang mulai memasuki fase pascatambang.
Antam juga membuka opsi ekspansi melalui peningkatan kepemilikan saham di perusahaan patungan (joint venture) yang sudah ada. Strategi ini memungkinkan perusahaan mengkonsolidasikan aset tambang tanpa harus memulai proyek baru dari nol, sekaligus menekan risiko eksplorasi.
Upaya penjajakan akuisisi luar negeri ini juga didorong oleh kebutuhan untuk meningkatkan cadangan emas dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan eksternal.
Selama ini, produksi emas Antam dinilai belum mencukupi kebutuhan industri dalam negeri, sehingga perusahaan perlu memperluas sumber bahan baku melalui ekspansi, termasuk ke luar negeri.
(dhf)






























