Setelah itu, pada 2027 ditargetkan terdapat 830 sumur idle yang dapat diaktifkan kembali oleh Kementerian ESDM.
Sumur Tua
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengklaim sekitar 80% sumur migas Indonesia merupakan sumur tua, bahkan beberapa di antaranya sudah beroperasi sejak masa penjajahan Belanda di Indonesia.
Di sisi lain, Bahlil juga mencatat terdapat sekitar 300 wilayah kerja (WK) yang sudah menyelesaikan rencana pengembangan atau plan of development (POD), tetapi tidak kunjung melakukan eksploitasi.
“Saya lapor kepada Bapak Presiden saya bilang Bapak Presiden Kalau model seperti ini terus yang dipakai, sampai 'ayam tumbuh gigi', lifting kita enggak pernah melompat,” kata Bahlil dalam pidatonya di acara Himpunan Alumni IPB, akhir pekan lalu.
Dengan demikian, Bahlil menyatakan pemerintah menyiapkan sejumlah langkah untuk meningkatkan produksi migas dari lapangan domestik.
Terhadap sumur migas milik Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang produksinya lesu, Bahlil mengarahkan agar dilakukan peningkatan perolehan minyak melalui teknologi enhanced oil recovery (EOR).
Sementara itu, di WK migas yang sudah menyelesaikan POD namun tak kunjung dieksekusi, Bahlil menyatakan pemerintah menyiapkan berbagai insentif yang diharapkan dapat membantu dan mempercepat proses eksploitasi.
Adapun, produksi siap jual atau lifting minyak Indonesia sepanjang 2025 tercatat 605.8000 barel per hari (bopd) atau melebihi target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebanyak 605.000 bopd. Pada 2024, capaian lifting tercatat sebesar 579.300 bph dan dilaporkan tanpa adanya natural gas liquid (NGL).
Dari sisi gas, produksi siap jual sepanjang 2025 tercatat mencapai 951.800 barel setara minyak per hari (boepd), di bawah target APBN sebanyak 1.005 ribu boepd.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mengungkapkan lifting minyak mentah Indonesia pada 2025 mencapai 581.600 bopd, jika tidak dijumlahkan dengan besaran NGL sebanyak 24,2 bopd.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan pada 2025 NGL masuk ke dalam perhitungan lifting minyak sebab secara fluida hidrokarbon yang keluar dari sumur migas memiliki karakteristik berbeda.
Ada sumur dengan tiga fasa yakni minyak, gas, dan air; ada yang dua fasa minyak dan gas; serta ada yang hanya satu fasa, baik seluruhnya minyak maupun seluruhnya gas.
Pada sumur tiga fasa, Djoko menjelaskan gas ikutan yang muncul di permukaan pada lapangan minyak sebelumnya banyak yang dilakukan flaring, meskipun kini dibatasi oleh ketentuan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Selain itu, air hasil produksi juga dikelola sesuai aturan lingkungan, baik melalui injeksi kembali ke reservoir maupun pembuangan yang memenuhi baku mutu lingkungan.
“Untuk mencapai target APBN kita lihat kaji regulasi UU kontrak standar internasional molekul itu sendiri itu NGL yang merupakan bahan baku LPG gitu masuk ke mana, ketika kita masukan ke dalam bagian dari lifting kita bisa mencapai target APBN,” kata Djoko menjawab pertanyaan anggota Komisi XII DPR ihwal NGL, medio Februari.
(azr/wdh)





























