“Pergerakan kapal ini semata-mata dimaksudkan untuk membantu individu, perusahaan, dan negara yang sama sekali tidak melakukan kesalahan—mereka adalah korban dari situasi,” tulis Trump pada Minggu dalam unggahan di media sosialnya.
Sebelumnya, Trump juga mengisyaratkan bahwa proposal perdamaian terbaru dari Iran kemungkinan belum cukup untuk memuaskannya, di tengah upaya mengakhiri konflik yang hingga kini belum menunjukkan kemajuan signifikan.
Namun, di sisi lain Trump masih berakrobat dan menciptakan kegaduhan di pasar global dengan menyatakan akan menaikkan tarif mobil dan truk dari Uni Eropa menjadi 25%, dengan alasan blok tersebut belum sepenuhnya mematuhi kesepakatan dagang dengan AS.
Sementara itu, perlawanan juga datang dari China yang menyerukan perusahaan-perusahaannya untuk tidak mematuhi sanksi AS terhadap lima kilang domestik yang terkait dengan perdagangan minyak Iran. Langkah ini menggunakan mekanisme "blocking statute" yang diperkenalkan pada 2021 untuk melindungi perusahaan dari hukum asing yang dianggap tidak adil.
Di tengah kondis ini, pasar menantikan rilis sejumlah data ekonomi yang akan menggerakkan pasar pekan ini, termasuk arah mata uang Asia.
Di pasar valas kawasan Asia yang sudah buka, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, yuan offshore, dan yen Jepang menguat. Hanya dolar Singapura yang melemah terbatas pagi ini 07.40 WIB.
Dari pasar domestik, investor mencermati sejumlah data ekonomi yang akan rilis pekan ini, seperti inflasi, capaian ekspor-impor, dan data pertumbuhan ekonomi.
Inflasi Indonesia diperkirakan melandai ke 3,26% secara tahunan dari 3,48%, masih dalam target Bank Indonesia (2,5%–3,5%).
Penurunan ini didorong efek basis, namun tekanan harga diperkirakan meningkat kembali mulai Mei akibat lonjakan harga energi global dan pelemahan rupiah.
Subsidi pemerintah setidaknya membantu meredam sebagian dampak dari kenaikan harga minyak tersebut, meski mungkin secara cadangan dan anggaran tak bisa bertahan lebih lama.
Sementara itu, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan tumbuh 5,2% secara tahunan, melambat dari 5,39% pada kuartal sebelumnya.
Kondisi ini disebabkan oleh lemahnya konsumsi rumah tangga dan investasi, seiring kehati-hatian akibat perang Iran dan risiko kenaikan biaya hidup. Namun, subsidi pemerintah dan kenaikan harga komoditas membantu menopang ekonomi.
Begitu juga dengan proyeksi ekspor impor yang diperkirakan melambat. Survei Bloomberg memperkirakan impor 10,76% melambat dari 10,85%, dan ekspor diperkirakan tumbuh 0,74% melambat dari capaian sebelumnya 1,01%.
Di tengah kondisi dan ekspektasi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak terbatas dengan bias melemah. Apalagi jika surplus neraca dagang Maret tercatat di bawah US$1,5 miliar, maka ruang penyangga terhadap defisit akan semakin tipis.
Dalam skenario tersebut, rupiah berpotensi kembali berada di bawah tekanan, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan. Pergerakan rupiah kemungkinan akan berada di rentang Rp17.300-Rp17.450/US$.
(riset/aji)



























