Logo Bloomberg Technoz

Banyak perusahaan teknologi telah menyediakan tool AI kepada militer AS, tetapi pejabat pertahanan telah berupaya memperluas ketentuan penggunaan sejak musim gugur 2025. Perusahaan teknologi lain yang baru-baru ini menyetujui kesepakatan serupa termasuk SpaceX, OpenAI, dan Google.

“Berbagai perjanjian ini mempercepat transformasi untuk menjadikan militer Amerika Serikat sebagai pasukan tempur yang mengutamakan AI,” demikian pernyataan departemen perang, yang merujuk pada perusahaan-perusahaan teknologi yang terlibat dan sekaligus menandai konfirmasi resmi pertama dari Pentagon terkait kesepakatan baru dengan Google yang dilaporkan awal pekan ini.

Segala upaya untuk menandatangani perjanjian baru dengan perusahaan-perusahaan teknologi guna memaksimalkan penggunaan AI canggih dalam bidang militer ini terjadi di tengah upaya Pentagon mengembangkan alternatif dari tool Claude milik Anthropic.

Perpecahan yang memanas antara Anthropic dan pejabat pertahanan senior mengungkap garis patahan yang berulang antara Pentagon dan Silicon Valley terkait risiko AI yang mengancam dalam perang. 

Militer AS. (Bloomberg)

“Perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama antara departemen eprang dan Oracle untuk memastikan AS memimpin secara tegas di sektor AI, sebagai bagian dari kepemimpinan global yang berkelanjutan dan keamanan nasional,” kata Kim Lynch, VP Eksekutif Oracle Government, Defense & Intelligence, dalam sebuah pernyataan.

“Dengan membawa AI canggih ke lingkungan rahasia, kami mengubah inovasi menjadi keunggulan operasional di tempat dan saat yang paling penting.”

Pentagon menegosiasikan perjanjiannya dengan Amazon Web Services hingga larut malam pada hari Kamis, menurut dua pejabat Pentagon yang diberi pengarahan mengenai pembicaraan tersebut.

AWS sebelumnya berkomitmen untuk mendukung militer AS selama lebih dari satu dekade, kata Tim Barrett, juru bicara AWS, saat dimintai komentar mengenai kesepakatan baru tersebut. “Kami berharap dapat terus mendukung upaya modernisasi Departemen Pertahanan, dengan mengembangkan solusi AI yang membantu mereka menyelesaikan misi-misi kritis mereka.”

Nvidia belum segera memberikan komentar, dan juru bicara Microsoft menolak memberikan komentar. Perwakilan dari Reflection belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Pentagon menolak untuk menghiraukan batasan yang ditetapkan Anthropic yang bertujuan membatasi cara militer AS menggunakan AI dalam operasi rahasia selama negosiasi ulang baru-baru ini, dan berusaha untuk mengeluarkan perusahaan tersebut dari semua rantai pasokan pertahanan. Perusahaan tersebut tidak ingin teknologinya digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga AS atau untuk sistem senjata otonom sepenuhnya.

Pameran peralatan di bidang pertahanan perang di DEFEA di Athena. Bloomberg

Sejak perselisihan dengan Anthropic, Pentagon telah mempercepat upayanya mengajak perusahaan AI lain agar menyetujui ketentuan penggunaan yang diperluas untuk model dan infrastruktur mereka pada jaringan rahasia dan sangat rahasia. Selain itu, pejabat pertahanan berusaha memastikan militer AS menghindari ketergantungan pada satu perusahaan atau serangkaian batasan tertentu, menurut salah satu pejabat Pentagon yang diberi pengarahan mengenai pembicaraan tersebut.

Perjanjian baru Nvidia, misalnya, memberikan keleluasaan yang jauh lebih besar kepada Pentagon dibandingkan dengan ketentuan penggunaan dalam perjanjian AI sebelumnya. Perusahaan tersebut telah setuju untuk tidak memberlakukan kebijakan penggunaan atau lisensi model apa pun yang akan membatasi penggunaan model-modelnya oleh departemen perang melebihi apa yang diwajibkan oleh hukum AS dan kewenangan konstitusional, menurut seorang sumber yang mengetahui perjanjian tersebut, yang meminta namanya tidak disebutkan saat membahas hal-hal sensitif.

Nvidia setuju untuk menyediakan “penggunaan penuh dan efektif atas kemampuannya guna mendukung misi Departemen,” termasuk untuk pengembangan sistem senjata otonom, menurut sumber tersebut.

Penggunaan model, mutu, atau kemampuan Nvidia lainnya oleh Departemen akan sejalan dengan kebebasan sipil dan hak konstitusional warga AS sesuai hukum, kata sumber tersebut, sebuah komitmen yang tidak mencakup mekanisme pemantauan dan evaluasi yang jelas.

Dalam pernyataannya, Oracle mengatakan “strategi AI-nya dibangun di atas keterbukaan, interoperabilitas, dan pilihan di seluruh tumpukan teknologi” dan yang akan memungkinkan “departemen perang untuk membangun, menerapkan, dan menskalakan model apa pun, tanpa ketergantungan pada vendor.”

“Pendekatan ini memungkinkan departemen tersebut untuk terus mengadopsi inovasi AI terbaik yang tersedia sambil tetap memegang kendali atas data, arsitektur, dan arah teknologi jangka panjang mereka,” kata Oracle.

Departemen tersebut memberi diri mereka waktu enam bulan untuk mengganti Claude, yang saat ini digunakan dalam operasi militer AS melawan Iran. Perselisihan ini kini berujung pada persidangan di pengadilan.

Pada hari Kamis, Menteri Perang AS Pete Hegseth menggambarkan pemimpin Anthropic sebagai “orang gila ideologis” dan membela penggunaan AI oleh departemennya.

“Kami mematuhi hukum dan manusia yang mengambil keputusan,” kata Hegseth kepada Kongres. “AI tidak membuat keputusan yang mematikan.”

Upaya Pentagon untuk melengkapi militer AS dengan AI mutakhir pada tingkat rahasia akan membantu “tim human-machine ” yang dapat menangani volume data yang sangat besar, kata Cameron Stanley, kepala digital dan AI badan pertahanan tersebut, dalam sebuah pernyataan yang merujuk pada kesepakatan baru tersebut. 

Walau OpenAI menandatangani perjanjian baru untuk perluasan penggunaan modelnya di jaringan rahasia dengan Pentagon awal tahun ini, banyak tool mereka masih belum diterapkan di jaringan pertahanan rahasia, menurut juru bicara OpenAI, yang menambahkan bahwa implementasi tetap sedang berlangsung. 

Beberapa kelompok aktivis telah menyoroti risiko mengandalkan sistem, yang didukung AI, yang tidak dapat diprediksi dalam mendukung keputusan, yang menyangkut hidup dan mati. Para kritikus berpendapat bahwa sistem AI rentan terhadap kesalahan dan dapat menimbulkan bias otomatisasi, atau kecenderungan untuk lebih mempercayai hasil mesin daripada penalaran manusia. 

Stanley belum merinci cara-cara spesifik yang akan digunakan Pentagon dalam menerapkan model AI pada operasi rahasia. Ia menggambarkannya sebagai alat digital yang akan memudahkan Pentagon untuk mengolah data, meningkatkan pemahaman dalam lingkungan yang kompleks, dan membuat “keputusan yang lebih baik, lebih cepat.” 

Claude termasuk di antara tool AI yang digunakan pada Maven Smart System, sebuah platform digital yang digunakan untuk mendukung penargetan dan operasi di medan perang selama operasi di Iran. US Central Command telah menyatakan bahwa mereka menggunakan berbagai tool AI untuk mempercepat proses. 

(bbn)

No more pages