Logo Bloomberg Technoz

Microsoft Pamer Chip Kuantum Baru, Ini Keunggulan Majorana 2

Redaksi
04 June 2026 12:10

Chip komputasi kuantum terbaru Microsoft bernama Majorana 2.
Chip komputasi kuantum terbaru Microsoft bernama Majorana 2.

Bloomberg, Microsoft Corp. mengumumkan chip komputasi kuantum terbarunya, sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk mewujudkan komputer kuantum yang memiliki manfaat komersial pada tahun 2029.

Perusahaan memperkenalkan Majorana 2 pada Selasa dalam konferensi pengembang Build yang digelar di San Francisco. Chip ini merupakan penerus perangkat riset yang diperkenalkan setahun lalu dan sempat memicu kontroversi di kalangan komunitas komputasi kuantum.

Sejumlah perusahaan teknologi besar saat ini berlomba membangun komputer kuantum yang berfungsi penuh. Mereka meyakini teknologi tersebut dapat merevolusi sektor keuangan, kesehatan, dan keamanan siber. Meski beberapa perusahaan telah menunjukkan kemajuan signifikan, hingga kini belum ada yang berhasil membuktikan aplikasi komersial di luar penelitian.

Microsoft menempuh pendekatan berbeda melalui teknologi yang disebut qubit topologis (topological qubits), berbeda dari metode yang digunakan oleh Google, IBM, dan perusahaan lainnya.

Perangkat terbaru Microsoft memiliki 12 qubit, unit dasar dalam komputasi kuantum, meningkat dari 8 qubit pada model sebelumnya. Namun, bagi Microsoft, pencapaian utama bukan hanya jumlah qubit, melainkan ketahanannya yang kini dapat bertahan lebih dari 20 detik.

Sebagai pembanding, qubit pada model sebelumnya hanya mampu bertahan kurang dari 12 milidetik sebelum kehilangan stabilitas. Selain itu, Majorana 2 menggunakan superkonduktor berbahan timbal (lead) untuk menggantikan konektor aluminium yang digunakan pada generasi sebelumnya.

“Berdasarkan kemajuan yang sangat cepat ini, kami mempercepat peta jalan menuju komputer kuantum yang dapat diskalakan dan praktis,” kata Chetan Nayak. “Kami telah memangkas target waktu kami hingga setengahnya dan kini menargetkan pencapaian tersebut pada 2029.”

Pada komputasi tradisional bekerja dengan informasi yang direpresentasikan sebagai angka nol atau satu. Sementara itu, qubit dalam komputasi kuantum dapat merepresentasikan probabilitas keduanya secara bersamaan, sehingga secara teori memungkinkan komputer kuantum menyelesaikan masalah yang tidak dapat ditangani komputer konvensional.

Tantangannya, qubit memerlukan lingkungan yang teramat dingin dan terkontrol agar dapat berfungsi. Selain itu, qubit rentan terhadap kesalahan perhitungan dan memiliki masa hidup yang sangat singkat.

Pendekatan Microsoft berfokus pada Majorana, yaitu kuasipartikel yang dinamai dari fisikawan Italia, Ettore Majorana, yang pertama kali mengemukakan teorinya. Microsoft berharap qubit berbasis Majorana akan lebih tahan terhadap kesalahan dibandingkan pendekatan lain.

Namun, proyek ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah peneliti kuantum mempertanyakan klaim Microsoft saat memperkenalkan Majorana generasi pertama tahun lalu. Mereka menilai chip dan makalah ilmiah yang menyertainya belum cukup membuktikan bahwa teknologi tersebut merupakan lompatan besar dalam bidang komputasi kuantum.

Selain itu, beberapa penelitian kuantum yang sebelumnya didukung Microsoft juga pernah ditarik kembali (retracted), menambah sorotan terhadap program tersebut.

Peneliti kuantum Microsoft, Zulfi Alam, mengatakan perusahaan terus bekerja sama dengan Defense Advanced Research Projects Agency milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk mengevaluasi perkembangan teknologi mereka.

“Kami memiliki tim ilmuwan terbaik dunia di DARPA yang meninjau program kami setiap minggu dan terlibat secara mendalam dalam setiap detail pekerjaan kami,” kata Alam dalam konferensi pers menjelang pengumuman. “Kami membuka seluruh data kami kepada mereka, semuanya.”

Menurut Alam, Microsoft lebih nyaman membagikan detail teknologinya kepada peneliti yang berafiliasi dengan pemerintah karena mereka tidak sedang mengembangkan komputer kuantum pesaing.

“Ide untuk memberikan seluruh data kami kepada laboratorium lain atau pesaing agar mereka dapat mereproduksi teknologi ini pada dasarnya tidak masuk akal dari sudut pandang bisnis,” ujarnya.