Melemahnya IHSG merupakan efek secara langsung dari tertekannya sejumlah saham big caps, terutama pada penutupan perdagangan hari ini.
Berikut diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (30/4/2026).
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mengurangi 12,6 poin
- Bank Central Asia (BBCA) mengurangi 11,76 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 10 poin
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 9,3 poin
- Bank Mega (MEGA) mengurangi 6,65 poin
- Barito Pacific (BRPT) mengurangi 6,5 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 6,29 poin
- Merdeka Gold Resources (EMAS) mengurangi 5,69 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) mengurangi 4,48 poin
- Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) mengurangi 4,01 poin
Adapun saham–saham LQ45 lainnya juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) drop 5,81%, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terpeleset 5,44%, dan saham PT United Tractors Tbk (UNTR) juga melemah dengan kehilangan 4,52%.
Disusul oleh pelemahan saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang turun 4,31%, saham PT Ciputra Group Tbk (CTRA) melemah 4,17%, dan saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) yang mencetak pelemahan 3,92%.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut, IHSG ditutup melemah di level 6.956 pada perdagangan Kamis imbas ketidakpastian mengenai negosiasi lanjutan antara AS-Iran serta ancaman Presiden AS Donald Trump yang tidak akan membuka blockade di Selat Hormuz jika Iran tidak sepakat dengan persyaratan AS.
Ancaman Trump turut menyeret harga minyak mentah melanjutkan penguatannya. Tingginya harga minyak yang lebih lama dari estimasi meningkatkan kecemasan akan inflasi dan potensi pelebaran defisit APBN 2026.
Terlebih lagi rupiah yang ditutup melemah di level terendah sepanjang sejarah (All Time Low/ATL) pada level Rp17.353/US$ di pasar spot, berdasarkan data Bloomberg, turut jadi sebab pelemahan IHSG.
Selanjutnya pada pekan depan, investor akan mencermati data inflasi, neraca perdagangan, PMI manufaktur dan PDB (Produk Domestik Bruto) periode Kuartal I–2026.
Senada, Panin Sekuritas memaparkan, katalis utama hari ini datang dari lonjakan harga minyak imbas kenaikan tensi di Timur Tengah dan sinyal keputusan The Fed yang menyiratkan suku bunga acuannya akan higher–for–longer.
“Kami masih memiliki pandangan bahwa pasar masih berada di rezim volatilitas tinggi dengan kecenderungan melemah. Adapun juga beberapa indikator makro mendatang akan kurang akomodatif sehingga optimisme dari sentimen pasar akan cenderung terbatas,” terang Panin dalam catatan terbarunya, Kamis.
Panin Sekuritas juga tengah menyoroti bagaimana pergerakan rupiah dan harga minyak mentah global masih memiliki korelasi yang kuat terhadap pasar domestik, mencerminkan risiko eksternal yang cukup signifikan terhadap ketahanan domestik.
(fad)



























