Dihubungi terpisah, Peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Badiul Hadi meramal harga BBM nonsubsidi bakal mengalami kenaikan pada Mei 2026, terlebih harga minyak mentah masih di atas US$100/barel.
Dia memprediksi harga Pertamax berpotensi naik ke kisaran Rp13.800—Rp14.500 per liter dan Pertamax Turbo yang sudah naik menjadi Rp19.400/liter berpotensi kembali naik ke Rp21.000/liter hingga Rp22.000/liter.
“Terkait dengan BBM nonsubsidi, tekanan penyesuaian harga juga makin kuat. Dengan kondisi harga minyak saat ini, prediksi saya Pertamax yang msh berada di Rp12.300/liter berpotensi naik ke kisaran Rp13.800—Rp14.500 [per liter],” kata Badiul ketika dihubungi, Kamis (30/4/2026).
Selat Hormuz telah efektif tertutup sejak awal perang pada akhir Februari. Kondisi ini melumpuhkan aliran minyak mentah, gas alam, serta produk minyak olahan, yang memicu lonjakan harga energi global
Harga West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 2,6% ke level US$109,64 per barel pada perdagangan Kamis (30/4/2025).
Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup mendekati US$118/barel pada sesi sebelumnya, yang merupakan level tertinggi sejak Juni 2022.
Sekadar informasi, PT Pertamina (Persero) akhirnya memutuskan untuk menaikkan sejumlah jenis harga BBM nonsubsidi pada Sabtu (18/04/2026).
Langkah ini diambil usai perusahaan pelat merah tersebut menahan harga BBM nonsubsidi pada awal bulan ini meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengganggu pasokan energi dunia.
Menyitir situs resmi, harga Pertamax Turbo (RON 98) dipatok Rp19.400/liter di Jabodetabek. Angka ini naik Rp6.300/liter dibandingkan dengan harga sebelumnya. Begitu juga dengan Pertamax Green, harga BBM ini naik Rp900 menjadi Rp12.900/liter di Jabodetabek.
Untuk harga BBM jenis solar nonsubsidi, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, sama-sama mengalami kenaikan yang signifikan di Jabodetabek.
Harga Dexlite dipatok menjadi Rp23.600/liter, naik Rp9.400 dibandingkan dengan harga sebelumnya Rp14.200/liter. Sementara, Pertamina Dex dipatok Rp23.900/liter, naik Rp9.400 dibandingkan dengan harga sebelumnya Rp14.500/liter.
Namun, Pertamina memilih untuk menahan harga Pertamax (RON 92) tetap pada level Rp12.300/liter di Jabodetabek.
Perusahaan pelat merah juga tak menaikkan harga BBM Khusus Jenis Penugasan seperti Pertalite (RON 90) yang tetap dibanderol Rp10.000/liter dan Pertamina Biosolar tetap dibanderol Rp6.800/liter.
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
"Keputusan penyesuaian harga hanya berlaku pada Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex. Sedangkan harga Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 tetap agar kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga," ujar Baron kepada Bloomberg Technoz, Sabtu (18/4/2026).
Dalam beleid tersebut, Kementerian ESDM menetapkan formula harga dasar sebagai pedoman perhitungan harga jual eceran jenis BBM bensin dan minyak solar yang disalurkan melalui SPBU.
Misalnya, jenis bensin di bawah RON 95 dan jenis minyak solar CN 48 dihitung dengan rumus Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus + Rp1.800/liter dan margin 10% dari harga dasar.
Sementara, jenis bensin RON 95, RON 98, dan minyak solar CN 51 dihitung dengan rumus Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus + Rp2.000/liter dan margin 10% dari harga dasar.
Selain itu, Baron mengatakan Pertamina tetap memantau dinamika harga minyak dunia dan berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan pasokan energi nasional.
(azr/wdh)





























