Selain itu, tren serangan juga mulai bergeser ke perangkat mobile. Seiring makin banyak orang mengakses layanan keuangan lewat smartphone, pelaku ikut menargetkan pengguna ponsel.
Temuan lain yang tak kalah mengkhawatirkan, sekitar 74% kartu pembayaran yang bocor masih aktif hingga Maret 2026. Artinya, meskipun data sudah lama bocor, risikonya tetap ada.
Selain malware, serangan phishing juga masih mendominasi. Pada 2025, situs palsu yang meniru toko online menjadi yang paling banyak digunakan, mencapai 48,5% dari total serangan phishing finansial.
Kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu wilayah dengan peningkatan signifikan dalam serangan infostealer, bahkan mencapai 132%. Secara global, deteksi malware jenis ini naik sekitar 59%, yang menunjukkan strategi utama dalam kejahatan siber modern.
(mef/wep)






























