Logo Bloomberg Technoz

Sementara, pergerakan hariannya nyaris datar, bahkan di tengah tekanan pasar global. Bagi investor yang terbiasa mengejar return tinggi, angka ini mungkin terlihat tidak menarik. Namun, dari perspektif manajemen aset, stabilitas seperti ini cenderung memiliki nilai strategis yang tinggi.

Melansir data dari Infovesta, produk pasar uang seperti BNI-AM Dana Pasar Uang Kemilau Kelas A mencatatkan imbal hasil 13,83% dalam tiga tahun terakhir. Di sisi lain, produk seperti BNI-AM Likuid Grandis mencatatkan imbal hasil tahunan 182,5% dalam tiga tahun.

Meski secara bulanan masih cenderung terbatas dengan return 0,36% dan 0,06%, namun kedua produk ini masih mencatatkan imbal hasil positif.

Selain itu, secara bulanan BNI-AM Dana Lancar Syariah yang mencatatkan return 0,62%. Kinerja ini menjadi capaian tertinggi di reksa dana pasar uang dengan dana kelolaan (AUM) mencapai Rp95,328 miliar.

Reksa Dana Saham Tertekan

Di sisi lain, kondisi pasar yang penuh tekanan juga memengaruhi aset reksa dana, khususnya produk berbasis saham. Farash Farich, Chief Investment Officer BNI Asset Management menyebut kinerja reksa dana cenderung menyusut setelah peperangan terjadi.

Sebagai gambaran, Farash bilang kinerja satu tahun reksa dana saham dengan strategi aktif bisa mencapai di atas 20%, sementara di tengah kondisi sekarang, kinerjanya setahun mungkin hanya 9% hingga 12% saja.

“Net outflow tersebut berkontribusi terhadap koreksi harga pada aset tersebut yang kemudian juga berdampak kepada nilai aktiva bersih,” kata Farash.

Data dari Infovesta, reksa dana saham memang mencatatkan kinerja yang tidak terlalu menggembirakan. Namun, masih ada juga produk yang mencatatkan kinerja positif di antaranya, Pacific Saham Syariah mencatatkan return 124,75% dalam satu tahun dan 73,27% dalam tiga tahun, sementara Pacific Saham Syariah II bahkan lebih tinggi dengan 141,24% (1 tahun) dan 46,04% (3 tahun).

Jika dilihat dalam durasi yang lebih pendek, kinerja bulanan reksa dana saham juga masih ada yang tercatat positif seperti Pacific Saham Syariah: +28,86% (1 bulan), OSO Andalas Equity Fund: +17,08% (1 bulan), Pacific Saham Syariah III: +15,03% (1 bulan).

Meski begitu, return tinggi tersebut sebagian besar merupakan “warisan” dari fase bullish sebelumnya, bukan cerminan kondisi pasar saat ini. Ketika tekanan global meningkat, volatilitas langsung muncul dalam bentuk koreksi harian yang cukup tajam.

Sebab, jika dilihat koreksi harian yang di produk ini mencapai -2% hingga -5%. Hal ini menunjukkan bahwa reksa dana kelas aset ini masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Lebih jauh lagi, banyak produk mencatat kinerja tiga tahun yang tidak konsisten, bahkan negatif.

Maklum, pasar saham domestik masih mencatatkan arus keluar dana asing (net sell) sebesar US$118,5 juta, per tanggal 27 April 2026. 

Farash menyarankan, dalam kondisi sekarang, investor sebaiknya bersikap menunggu kondisi lebih kondusif sebelum masuk ke produk reksa dana saham dan campuran.

Pasar Obligasi

Instrumen obligasi kerap dianggap sebagai aset safe haven. Tapi dalam situasi seperti sekarang, pandangan itu mungkin tak sepenuhnya relevan. Sebab, suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama, penguatan dolar AS, serta arus keluar dana dari pasar negara berkembang terus menekan pasar obligasi.

Akibatnya, profil risikonya meningkat, sementara imbal hasil yang ditawarkan belum sepenuhnya mencerminkan kompensasi yang sepadan.

Bagi reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi ini, tekanan diperkirakan akan datang dari potensi inflasi dan pelemahan rupiah yang masih terjadi. Meski begitu, di tengah kondisi serba volatil seperti sekarang, pendapatan tetap relatif stabil jika dibandingkan dengan saham. 

Hal ini terlihat pada produk reksa dana pendapatan tetap pada periode terbaru yang menunjukkan pola yang relatif konsisten: stabil dalam jangka pendek, namun belum sepenuhnya pulih dalam jangka panjang.

Data dari Infovesta menunjukkan imbal hasil satu tahun masih berada di kisaran 3%–6%, dengan kinerja tiga tahun sekitar 5%–11%.

Jika ditarik dalam jangka pendek, pergerakan harian cenderung datar, berada di kisaran 0,01% hingga 0,05%. Hal ini mencerminkan karakter instrumen berbasis obligasi yang lebih defensif.

Dalam horizon satu tahun, sebagian besar produk kelas aset ini mencatatkan imbal hasil di kisaran 3% hingga 6,6%. Seperti, Allianz Fixed Income Fund 2 mencatat 6,61% (1 tahun), AXA Bond Income Kelas O sebesar 6,38%, AXA Obligasi Dollar di level 5,87%.

Produk berbasis dolar seperti AXA Obligasi Dollar dan Allianz USD Fixed Income Fund menunjukkan kinerja yang relatif kompetitif, dengan return satu tahun di kisaran 3% hingga 5%. Ini mencerminkan adanya manfaat diversifikasi valuta di tengah pelemahan rupiah.

Akan tetapi, eksposur dolar juga bisa membawa risiko fluktuasi nilai tukar, serta adanya sensitivitas terhadap kebijakan moneter global

Artinya, keuntungan dari sisi kurs bisa dengan cepat berubah menjadi tekanan jika arah dolar berbalik.

Dari semua produk reksa dana, pendapatan tetap masih masih bisa digunakan sebagai instrumen yang defensif di tengah turbulensi pasar saat ini. Sementara, pasar uang mencatatkan kinerja paling stabil dan menjadi satu-satunya yang konsisten membukukan imbal hasil positif.

Sebaliknya, reksa dana saham menjadi kelas aset yang paling volatil. Dalam kondisi saat ini, tekanan tersebut tercermin dari kinerja bulanan yang sudah berada di zona negatif.

(dsp/aji)

No more pages