Sebaliknya, hanya ringgit Malaysia menguat terbatas 0,06% dan dolar Hong Kong 0,01% saja.
Dari pasar saham domestik, arus keluar dana asing tercatat cukup agresif kemarin (27/4/2026) senilai US$118,5 juta. Penjualan asing ini menjadi yang terbesar sejak 26 Maret 2026, dan menandakan aksi jual di hari keempat secara beruntun.
Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor global di tengah dinamika eksternal, termasuk ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi.
Di sisi lain, investor masih mencermati kondisi Indonesia yang tengah menghadapi tekanan pada arus kas. Dana darurat pemerintah Indonesia telah menyusut lebih dari Rp300 triliun, dan menyebabkan kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan fiskal negara kembali mengemuka.
"Peningkatan kewajiban pembayaran utang, ditambah dengan penyesuaian fiskal yang tertunda, memicu kekhawatiran akan potensi krisis keuangan, dengan risiko hiperinflasi yang semakin meningkat apabila langkah darurat terus berlanjut," seperti dikutip dari laporan Samuel Sekuritas.
Sementara itu, investor global masih mencatatkan minat terhadap instrumen pendapatan tetap Indonesia. Data dari Kementerian Keuangan, investor asing masih tercatat melakukan pembelian bersih sebesar US$91,7 juta di pasar obligasi pemerintah.
Sejalan dengan itu, hari ini pemerintah melalui Kementerian Keuangan kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) dengan target indikatif Rp36 triliun. Antusiasme pasar pada lelang sebelumnya (14/4/2026) cukup memberi sinyal positif, angka penawaran naik 34% menjadi Rp78,44 triliun dari Rp58,22 triliun.
Kenaikan ini mencerminkan likuiditas yang masih tersedia sekaligus menunjukkan bahwa permintaan terhadap SUN pemerintah tetap terjaga, meskipun dengan biaya yang diganjar lebih mahal dari sebelumnya.
(dsp/aji)





























