Proposal Iran sendiri menawarkan pendekatan bertahap. Teheran bersedia membuka kembali Selat Hormuz, dengan syarat AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sementara itu, isu yang lebih kompleks seperti program nuklir akan dibahas di tahap berikutnya.
Di sisi lain, Israel dilaporkan lebih mimilih agar AS mempertahankan blokade di Selat Hormuz sambil mempersiapkan kemungkinan eskalasi konflik berikutnya.
Meski begitu, peluang untuk menerima tawaran Iran masih tetap terbuka dan pasar masih menaruh optimisme terhadap arah negosiasi tersebut.
Di tengah kondisi geopolitik ini, harga minyak mentah Brent masih bertahan di US$108 per barel, berdasarkan data realtime Bloomberg 07.40 WIB. Sementara, pergerakan mata uang kawasan masih beragam.
Penguatan terbatas hanya terjadi pada won Korea Selatan, dolar Singapura, yen Jepang, dan dolar Hong Kong. Sebaliknya, baht Thailand melemah paling tajam 0,19%, disusul ringgit Malaysia 0,03%.
Dari dalam negeri, belum banyak katalis yang bisa mendongkrak pergerakan rupiah. Kemarin, apresiasi terhadap rupiah sebelum penutupan pasar lantaran mata uang Asia tertopang oleh menguatnya yuan offshore yang menjadi jangkar di kawasan.
Pasar sepertinya masih menanti data ekonomi yang terkait dengan dampak perang terhadap neraca dagang ekspor dan impor RI. Pada Februari, neraca Indonesia tercatat masih surplus sebesar US$1,273 juta.
Di tengah kondisi ini, bagaimana arah rupiah?
Analisa Teknikal
Secara teknikal nilai rupiah masih ada potensi melemah, mencermati sejumlah sentimen hingga dalam mode wait and see, dengan pelemahan terdekat menuju level Rp17.200/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua berpotensi tertahan di level Rp17.250/US$.
Selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas level terlemah sepanjang masa (All Time Low/ATL) usai tertekan, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga mencapai Rp17.300/US$ hingga Rp17.400/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya pada time frame daily menjadi resistance psikologis potensial pada level Rp17.100/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan untuk kembali menembus Rp17.000/US$.
(riset/aji)




























