Pemerintah Filipina memastikan bahwa akses mereka terhadap minyak Rusia tetap tersedia dengan mengamankan hampir 2,5 juta barel minyak Rusia per Maret 2026.
Begitu juga dengan Indonesia yang menjalin hubungan dengan Rusia demi mengamankan minyak mentah dan telah menyepakati impor 150 juta barel minyak Rusia secara bertahap.
Selain soal minyak, fokus pasar di kawasan akan tertuju pada keputusan bank sentral Jepang yang diperkirakan tetap menahan suku bunga acuannya di 0,75%.
Meski inflasi menunjukkan tren penguatan, ruang gerak Bank of Japan (BoJ) sepertinya terbatas. Pasar akan mencermati nada pernyataan dan proyeksi terbaru terutama bagaimana BoJ menyeimbangkan risiko inflasi dengan pertimbangan politik. Sebab, inflasi di Tokyo diperkirakan menguat, meski belum cukup untuk mendorong kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Dari China, data PMI April sepertinya menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi. Sektor manufaktur memang masih bertahan di zona ekspansi, ditopang oleh permintaan ekspor yang relatif kuat. Meski begitu, permintaan domestik yang masih lemah membayangi pemulihan ekonomi di negeri Tirai Bambu.
Sementara dari Korea Selatan, Presiden Lee Jae Myung dijadwalkan bertemu Demis Hassabis dari Google DeepMind di Seoul yang jadi penanda bahwa negeri Gingseng ini akan fokus pada penguatan sektor kecerdasan buatan.
Dari Indonesia dan Asia Tenggara, polemik terkait jalur perdagangan Selat Malaka kembali mengemuka setelah Selat Hormuz dijadikan sebagai alat tekanan geopolitik. Namun, pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono memastikan bahwa tidak akan memberlakukan pengenaan tarif bagi kapal yang melintas Selat Malaka.
Begitu juga dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan yang menegaskan bahwa jalur di Selat Malaka dan Singapura harus tetap bebas dan terbuka, serta menolak upaya pembatasan atau pengenaan biaya tambahan bagi kapal.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia akan kembali menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) esok hari dengan target indikatif Rp36 triliun di tengah naiknya utang jatuh tempo 4,2% menjadi Rp833,96 triliun pada 2026 dari Rp800,33 triliun pada tahun 2025.
Berikut agenda ekonomi sepekan yang akan mewarnai pergerakan pasar:
Senin, 27 April 2026
-
China: data laba industri (Maret, tahunan), proyeksi 14,9%, sebelumnya 15,2%.
-
Thailand: data penjualan mobil
Selasa, 28 April 2026
-
Indonesia: lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang Rupiah, target indikatif Rp36 triliun.
-
Jepang: kebijakan suku bunga acuan (tetap 0,75%)
-
Amerika Serikat: data keyakinan konsumen
-
Zona Eropa: indeks keyakinan konsumen, data produksi industri, penjualan retail, data pengangguran, dan ekspektasi inflasi bank sentral Eropa.
Rabu, 29 April 2026
-
Thailand: suku bunga acuan (tetap 1%)
-
Indonesia: survei ekonomi Bloomberg edisi April
Kamis, 30 April 2026
-
Korea Selatan: data produksi industri (Maret, bulanan) proyeksi 0,6%, sebelumnya 5,4%.
-
Thailand: data ekspor-impor, neraca perdagangan, dan cadangan devisa
-
Jepang: data produksi industri (Maret, bulanan), proyeksi 3,5%, sebelumnya -2%. Data penjualan retail tahunan.
-
China: data PMI Manufaktur (April) proyeksi 50,1, sebelumnya 50,4.
-
Taiwan: Capaian PDB kuartal I-2026 (kuartal I-2026), proyeksi 10,5%, sebelumnya 12,65%.
-
India: data produksi industri (Maret) proyeksi 3%, sebelumnya 5,2%
Jumat, 1 Mei 2026
-
Indonesia: pasar libur Hari Buruh
-
Jepang: data inflasi (April) proyeksi 1,8%, sebelumnya 1,7%
-
Korea Selatan: data ekspor (April) proyeksi 54%, sebelumnya 49,2%.
(dsp/aji)





























