Logo Bloomberg Technoz

Salah satu komoditas yang terdampak akibat hal ini adalah gas alam cair alias LNG. Sekitar 20% perdagangan LNG dunia transit di Selat Hormuz setiap tahunnya.

Alhasil, dunia dilanda keketatan pasokan LNG. Ini membuat batu bara kembali dilirik, terutama sebagai sumber energi pembangkit listrik.

Di Italia, misalnya. Mengutip Bloomberg News, pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni ingin mengurangi ketergantungan negaranya terhadap gas.

Salah satunya adalah dengan memperpanjang pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang bertenaga batu bara. Pemerintah Italia mengajukan rencana untuk memperpanjang penggunaan PLTU hingga 2038, setidaknya untuk cadangan.

Tumpukan batu bara yang masih berasap dimuat ke truk. Fotografer: Muhammad Fadli/Bloomberg

Analisis Teknikal

Jadi bagaimana ‘ramalan’ harga batu bara untuk hari ini, Kamis (23/4/2026)? Berapa saja target yang perlu dicermati pelaku pasar?

Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara masih bertahan di zona bullish. Tercermin dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 50. Namun RSI batu bara menunjukkan bahwa posisinya cenderung netral.

Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 29. Menghuni area jual (short) yang kuat.

Untuk perdagangan hari ini, harga batu bara sejatinya berpeluang naik. Apalagi harga sudah berada di pivot point.

Target resisten terdekat ada di US$ 133/ton. Jika tertembus, maka ada potensi untuk naik lagi ke rentang US$ 134-136/ton.

Namun apabila harga batu bara malah turun, maka US$ 130/ton sepertinya bisa menjadi target support terdekat. Dari sini, ada risiko harga akan menguji kisaran US$ 127-126/ton.

(aji)

No more pages