Di sisi lain, dia mengatakan, perbaikan transparansi saham domestik belakangan telah membuahkan hasil positif. Menurut dia, kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik berangsur membaik.
“Sejak penyelesaian market transparency reform diumumkan di tanggal 2 April 2026, kalau kita lihat IHSG sudah menunjukkan peningkatan sebanyak 8% dari 7026 poin sampai dengan kemarin ditutup 7559 poin,” kata dia.
Sebelumnya, MSCI kembali membekukan kajian atau review konstituen saham dari Indonesia dalam rebalancing periode Mei 2026, meski otoritas setempat telah melakukan reformasi pasar modal.
Dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (21/4/2026), MSCI masih mengevaluasi konsistensi dan efektivitas data dan kebijakan atas reformasi tersebut, termasuk soal batasan baru free float ke 15%.
Atas penundaan rebalancing konstituen dari Indonesia tersebut, maka MSCI belum akan menambahkan saham Indonesia MSCI Investable Market Indexes, tidak ada kenaikan foreign inclusion factor (FIF), tidak ada penyesuaian number of share, dan kenaikan kelas dalam kategori indeks.
Meski demikian, MSCI akan menghapus saham yang masuk kategori HSC dan menggunakan data pemegang saham 1% untuk penyesuaian free float, meski data baru tersebut belum sepenuhnya digunakan hingga kajian selesai.
MSCI menegaskan pihaknya masih mengkaji ruang lingkup, konsistensi, serta efektivitas data dan kebijakan baru yang diumumkan otoritas Indonesia.
Skenario Outflow
Sejumlah analis memastikan bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Market bakal susut selepas risiko beberapa saham konglomerasi didepak dari indeks global tersebut.
Co-Founder of Alphagate Capital & Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan Henry Wibowo menerangkan penurunan bobot itu bakal diikuti dengan risiko keluar dana asing yang signifikan dari pasar modal domestik.
Kendati, kata Henry, pasar telah mengantisipasi keluarnya sejumlah saham konglomerasi dengan konsentrasi kepemilikan tersebut jauh-jauh hari.
“Pembekuan lanjutan terkait inklusi dalam rebalancing bulan Mei mendatang sudah sangat diantisipasi dan telah tercermin dalam level pasar saat ini,” kata Henry saat dihubungi, Rabu (22/4/2026).
Di sisi lain, Henry menambahkan, terdapat kemungkinan penurunan bobot atau downweight untuk sejumlah saham dengan free float riil yang lebih rendah lewat adopsi data pemegang saham 1% yang baru diungkap regulator.
“Kami perkirakan bobot Indonesia di MSCI Emerging Market susut 0,2%-0,3% dari sekitar 1% saat ini, potensi outflow dana asing dapat mencapai US$1,5 miliar - US$3 miliar, tergantung dari pengurangan bobot dan penghapusan saham,” kata Henry.
Managing Director Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su berpendapat, beberapa saham yang akan didepak dari MSCI akan terbatas pada saham dengan kepemilikan saham terkonsentrasi atau high concentration shareholder (HSC).
Di sisi lain, Harry memproyeksikan bobot Indonesia di indeks global itu akan berkurang lebih dalam, dengan dua saham HSC menyumbang sekitar 5 basis poin.
“Bobot Indonesia di MSCI Asia Emerging Index akan turun lebih dalam year-to-date minus 0,37%,” kata Harry saat dikonfirmasi.
Arus keluar dana asing pada Maret di Indonesia secara garis besar mencapai Rp23,3 triliun atau setara US$1,4 miliar.
Namun, jika mengecualikan transaksi pasar negosiasi dalam jumlah besar, nilai jual bersih lebih mendekati Rp9 triliun (US$530 juta).
“Jika digabungkan dengan arus keluar pada Februari dengan basis yang sama, serta tambahan outflow sebesar Rp3,4 triliun secara month–to–date/mtd hingga 7 April, hal ini mengindikasikan sentimen investor asing masih lemah,” tulis Sufianti, Equity Strategist di Bloomberg Intelligence dalam risetnya.
Manuver jual tersebut intens pada saham–saham LQ45, yang menunjukkan investor asing mengurangi eksposur melalui saham–saham paling likuid di pasar.
Hal baiknya, kondisi ini membuat valuasi menjadi lebih menarik, dengan multiple indeks IHSG dan LQ45 yang mendekati level terendah setelah mengalami penurunan dua digit.
(naw)





























