Bahkan sejak awal April rupiah masih tetap terdepresiasi 0,87% dan menjadi yang terlemah di kawasan, kala mayoritas mata uang lainnya berhasil rebound.
Rupiah tertekan oleh sentimen ganda, baik dari sisi eksternal dan internal. Sebelum perang pecah, rupiah tertekan oleh kondisi fiskal yang terjepit karena rencana belanja ekspansif. Hal ini kemudian membuat lembaga pemeringkat menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia.
Pecahnya perang Timur Tengah menambah beban rupiah dengan lonjakan harga minyak mentah yang di atas harga asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Harga minyak dalam APBN seharusnya US$70 per barel, namun saat ini masih bertahan di level US$90-an per barel.
Hari ini, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter akan kembali menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk memutuskan tingkat suku bunga acuan. Pelaku pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 4,75% karena volatilitas rupiah masih tinggi.
(dsp)





























