“Sekitar 80% dari total nilai pendanaan startup pada 2025, yakni US$290 juta, mengalir ke pendanaan Series A hingga Series C, meski hanya mencakup 28% dari total transaksi,” ujar dia.
Ia menjelaskan, tren ini menunjukkan bahwa penilaian investor terhadap perusahaan yang telah memiliki model bisnis lebih teruji, dibandingkan startup tahap awal yang masih sarat akan risiko.
“Tren tersebut mengisyaratkan kembalinya kesadaran pada hal-hal mendasar, terutama profitabilitas, dengan tetap memperhatikan potensi ekspansi yang realistis,” kata Izzudin.
Sejumlah sektor dinilai masih menjadi primadona karena terbukti memiliki jalur profitabilitas yang jelas, seperti new retail, fintech, dan e-commerce. Namun, investor juga mulai melirik sektor dengan prospek pertumbuhan jangka panjang yang kuat.
“Sektor seperti green tech termasuk climate tech dan agritech serta health tech akan semakin dilihat sebagai sektor menjanjikan di masa depan,” ujar dia.
Kasus Manipulasi eFishery
Hasil penyelidikan internal mengungkap kemungkinan praktik manipulasi keuangan di eFishery. Laporan awal menunjukkan bahwa perusahaan tersebut menggelembungkan pendapatan dan laba sejak awal berdiri, dengan mencatatkan kerugian total sebesar US$152 juta (sekitar Rp2,47 triliun).
Lebih lanjut, laporan setebal 52 halaman dari FTI Consulting mengungkap bahwa dalam sembilan bulan pertama 2024, eFishery melaporkan keuntungan sebesar US$16 juta (sekitar Rp260 miliar), padahal sebenarnya perusahaan mengalami kerugian US$35,4 juta (sekitar Rp576 miliar).
Tak hanya itu, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa manajemen eFishery menggelembungkan pendapatan hingga hampir US$600 juta dalam periode yang sama. Dengan manipulasi tersebut, lebih dari 75% angka yang dilaporkan diduga palsu.
Penyelidikan ini dilakukan setelah seorang pelapor rahasia melaporkan dugaan manipulasi data keuangan kepada salah satu anggota dewan.
Laporan yang kini telah beredar di kalangan investor juga menyebut bahwa perusahaan yang didukung oleh investor besar seperti SoftBank Group Corp dan Temasek Holdings Pte ini mencatatkan angka penjualan alat pemberi makan ikan sebanyak 400 ribu unit, padahal jumlah sebenarnya hanya sekitar 24 ribu unit.
(mef/frg)





























