"Jadi reformasi yang dilakukan oleh Bapak Presiden [Prabowo] membuat kita masuk ke tahun 2026 dengan keadaan yang baik, sehingga ketika ada shock dari harga minyak dunia yang tinggi, ekonomi kita masih bisa bertahan. Jadi itu pesan utama yang kita berikan ke investor maupun ke IMF dan World Bank," kata Purbaya dalam keterangannya, mengutip dari Metro TV, Minggu (19/4/2026).
"Dan mereka setuju dengan apa yang kita lakukan dan boleh dibilang sedikit kagum, dia nggak bilang kagum sih, tapi mukanya sih kelihatan sih, senang sekali dengan berita yang kita bawa."
Untuk diketahui saja, World Bank dalam laporannya East Asia & Pacific Economic Update April 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik melambat dari 5% pada 2025 menjadi 4,2% pada 2026. Sementara spesifik untuk Indonesia menjadi 4,7% dari proyeksi sebelumnya 4,8% pada Oktober 2025.
Terkait hal tersebut Bendahara Negara menilai sikap World Bank dalam mengkalkulasi pertumbuhan ekonomi RI terlalu terburu-buru. Bahkan Purbaya bilang ekonom yang menyusun proyeksi tersebut sempat menyampaikan permintaan maafnya.
Dia menegaskan pemerintah tidak meminta revisi proyeksi tersebut, dan memilih untuk membuktikan bahwa apa yang diproyeksikan tersebut keliru.
"Saya akan buktikan Anda salah, saya bilang. Karena saya akan menciptakan ekonomi yang lebih tinggi dari yang Anda prediksikan. Dia ketawa dan dia ikut mendoakan, kira-kira begitu," kata Purbaya.
Dia sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai di atas 5,5%, dengan kunci utama menjaga permintaan domestik. Di samping ia juga menilai tekanan global tidak akan berlangsung sepanjang tahun, sehingga ruang fiskal masih dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan.
"Karena sekarang walaupun banyak ketidakpastian global, tapi yang globalnya enggak resesi, masih tumbuh walaupun lebih pelan ya. Kalau kita lihat pengalaman tahun 2009, pada waktu seluruh negara di dunia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi, kita masih bisa tumbuh 4,6% kalau kita jaga permintaan dalam negerinya," ujar Purbaya.
"Jadi biasanya dalam keadaan sekarang ketika semua negara di dunia mengalami kontraksi ekonomi, harusnya kita tumbuhnya 4,6% kalau kita jaga permintaan dalam negeri."
S&P Pertahankan Rating Indonesia
Adapun berkaitan dengan keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dinilainya sebagai sinyal positif. Sebab lewat status tersebut, menegaskan Indonesia masih berada dalam kategori investment grade, di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Untuk diketahui, dalam laporan terbaru S&P Global Ratings menilai peringkat utang Indonesia merupakan yang paling rentan di Asia Tenggara jika konflik Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Lonjakan harga energi berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan melalui kenaikan impor minyak, sekaligus menekan ruang fiskal akibat membengkaknya subsidi.
"Ternyata setelah kita diskusi dengan tokoh-tokoh, pimpinan-pimpinan bukan pimpinan ya, orang-orang penting di S&P yang langsung menangani peringkat kita, kita bisa meyakinkan bahwa langkah yang kita jalankan adalah baik, kita tidak akan menembus level 3% dari PDB untuk rasio defisit kita," jelas Purbaya.
Di samping itu, pemerintah turut memaparkan kepada S&P bahwa reformasi fiskal dan restrukturisasi ekonomi yang dilakukan mampu meningkatkan efisiensi anggaran.
Dengan sumber daya yang relatif sama, pemerintah diklaim mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, khususnya pada kuartal IV tahun lalu.
Adapun S&P dijadwalkan akan berkunjung ke Indonesia pada Juni untuk melakukan diskusi lanjutan dan melihat langsung implementasi kebijakan pemerintah. Namun, kata Purbaya kunjungan tersebut dilakukan bukan untuk mengevaluasi ulang peringkat, melainkan memastikan konsistensi program yang telah disampaikan sebelumnya.
"Saya akan menghilangkan kendala-kendala di perekonomian dan memastikan juga belanja pemerintah, dibelanjakan tepat waktu, tepat sasaran, dan sedikit yang bocor. Atau kalau bisa nggak ada yang bocor. Jadi [S&P] akan datang ke Jakarta untuk diskusi dan membuktikan realnya," ujar dia.
(prc/frg)





























