Taufik juga meminta ikan sapu-sapu ini tidak dikonsumsi atau dijadikan bahan produk olahan karena kuat diduga sudah tercemar limbah merkuri.
Sebelumnya, DKI Jakarta akan mengintensifkan pengerukan sedimen dan pembersihan aliran sungai secara serentak di lima wilayah kota administrasi Jakarta pada Jumat mendatang. Pengerukan sekaligus dilakukan dengan penangkapan massal ikan sapu-sapu yang dianggap sebagai hama lingkungan.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan upaya ini sekaligus untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang semakin banyak berkembang biak.
"Lima daerah kita akan adakan kegiatan untuk mengurangi ikan sapu-sapu tapi tidak semata-mata untuk ikan sapu-sapu tetapi kita juga mengangkut sedimen, kemudian memperbaiki saluran air," ujar Pramono, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Pramono menilai keberadaan ikan sapu-sapu ini dinilai telah merusak ekosistem lingkungan di aliran sungai karena menjadi predator bagi ikan-ikan lokal. Selain itu, ikan ini tidak sehat jika dikonsumsi karena memiliki kandungan berbahaya.
"Hampir semua ikan yang dites di laboratorium kadar batasnya itu kan 0,3 miligram. Ikan sapu-sapu lebih dari itu, sehingga akan sangat berbahaya kalau dikonsumsi, ada timbalnya. Benar-benar berbahaya bagi manusia kalau dikonsumsi," jelas Pramono.
(ain)




























