Logo Bloomberg Technoz

Dia menegaskan menjaga pasokan energi harus menjadi prioritas pemerintah, meskipun terdapat ancaman dikenakan sanksi oleh AS.

Terlebih, kata Yayan, hingga kini belum terdapat informasi ihwal rencana pengenaan sanksi oleh AS kepada Indonesia gegara mulai menjajaki impor migas dari Rusia.

“Tidak ada Informasi tentang realisasi kebijakan AS untuk pembelian barang oil dan gas ke Indonesia secara konkret, sementara kita butuh keputusan saat ini,” tegas dia.

Harus Cermat

Dihubungi terpisah, Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menyatakan Indonesia harus cermat dalam melakukan diplomasi energi dengan Rusia dan AS.

Pri Agung memandang Indonesia memiliki posisi strategis untuk dapat mendapatkan komoditas migas dari kedua negara tersebut, sebab Indonesia merupakan negara anggota BRICS dan di sisi lain telah memiliki kesepakatan impor migas dari AS.

“Kuncinya di kepiawaian diplomasi energi kita dengan keduanya. Memang itu yang harus diupayakan agar kita tidak bergantung pada satu pihak saja dan itulah yang saya pikir sedang diupayakan oleh pemerintah kita sekarang,” ungkap Pri Agung ketika dihubungi, Jumat (17/4/2026).

Adapun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia bakal tetap menjalankan perjanjian impor komoditas migas senilai US$15,5 miliar (sekitar Rp253 triliun) dari AS, meskipun dalam waktu dekat akan mendatangkan minyak mentah hingga liquified petroleum gas (LPG) dari Rusia.

Bahlil menyatakan Rusia telah siap memasok minyak mentah ke Indonesia, sekaligus tengah menjajaki peluang investasi pembangunan fasilitas storage atau tangki penyimpanan minyak serta kilang minyak.

Bahlil juga mengungkapkan Indonesia dan Rusia tengah memasuki tahap negosiasi agar dapat mendatangkan LPG dari Rusia.

Meskipun begitu, Bahlil menegaskan Indonesia bakal tetap menghormati perjanjian impor migas dari sejumlah negara, termasuk dari AS. Terlebih, kata Bahlil, kebutuhan minyak mentah Indonesia per tahun mencapai 300 juta barel.

“Pasti pertanyaan kemudian adalah apakah dengan kita membeli crude dari Rusia kemudian bagaimana perjanjian kita dengan negara lain termasuk dengan Amerika? Saya katakan bahwa kebutuhan crude kita setiap tahun itu kurang lebih sekitar 300 juta barel jadi semuanya kita ambil mana yang menguntungkan untuk negara kita harus kita lakukan,” kata Bahlil kepada awak media, di Istana Merdeka, dikutip Jumat (17/4/2026).

Dalam kesempatan itu, Bahlil menyatakan Indonesia selaku negara bebas aktif dapat membeli komoditas migas dari berbagai sumber, termasuk dari Rusia.

Meskipun begitu Bahlil menegaskan, Indonesia bakal tetap menghargai perjanjian pembelian komoditas migas yang telah diteken dengan AS.

Hal tersebut diungkapkan Bahlil ketika AS mengumumkan tak bakal melanjutkan kebijakan dispensasi sanksi terhadap minyak Rusia dan Iran.

“Jadi kita boleh belanja di mana saja selama kita komitmen dengan orang-orang atau negara-negara yang telah kita melakukan ajak kerja sama, termasuk Rusia kemudian Afrika, Nigeria dan lebih khusus yang kita hargai juga adalah termasuk dengan perjanjian kita dengan Amerika,” kata Bahlil.

Adapun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan kembali bahwa Washington tidak akan memperpanjang izin umum yang memungkinkan penjualan sementara minyak mentah Rusia dan Iran tertentu.

“Kami tidak akan memperpanjang izin umum untuk minyak Rusia, dan kami tidak akan memperpanjang izin umum untuk minyak Iran,” kata Bessent pada Rabu dalam konferensi pers di Gedung Putih.

Pemerintahan Trump sebelumnya mengeluarkan pengecualian sementara yang mengizinkan pembelian minyak mentah Rusia dan Iran yang sudah dimuat ke kapal, meski keduanya terkena sanksi.

Beberapa negara Asia, termasuk India dan Filipina, telah berusaha meyakinkan AS agar memperpanjang pengecualian Rusia sebelum masa berlakunya berakhir.

(azr/wdh)

No more pages