Investasi konsorsium pengelola dana jumbo itu bertahan belasan tahun setelah Patrick dan koleganya memutuskan keluar. DOID belakangan bertransformasi menjadi raksasa kontraktor tambang dengan portofolio tersebar di Indonesia, Australia dan Amerika Serikat.
Malahan, perusahaan yang dibesarkan Patrick itu juga tengah mencoba peruntungan baru untuk ikut mengelola tambang tembaga secara langsung di Australia.
Hanya saja, terjadi pergeseran porsi saham pengendali konsorsium Northstar Tambang Persada Ltd sejak paruh pertama 2021. Investor anyar Soul Humanity Ltd. pelan-pelan mengambil bagian saham Northstar Tambang Persada Ltd.
Soul Humanity Ltd dikendalikan Ronald Sutardja dan Ashish Gupta. Ronald kini duduk sebagai Direktur Utama DOID dan Gupta mengisi posisi komisaris DOID.
Direktur DOID Iwan Fuad Salim menuturkan Northstar Tambang Persada Ltd saat ini dimiliki oleh Souls Humanity Pte Ltd. Penerima manfaat akhir Northstar Tambang Persada bergeser ke Ronald Sutardja dan Ashish Gupta.
“Northstar Tambang Persada Ltd saat ini 100% dimiliki oleh Souls Humanity Pte Ltd, dengan Pak Ronald Sutardja dan Pak Ashish Gupta sebagai penerima manfaat akhir,” kata Iwan saat dikonfirmasi, Jumat (17/4/2026).
Berdasarkan data pemegang saham per Maret 2026, Northstar Tambang Persada Ltd memegang 38,22% saham DOID dan kepemilikan masyarakat mencapai 45,87%. Selain itu, Six Sis Ltd turut memegang 5,65% saham DOID.
Beberapa investor strategis lainnya meliputi UBS AG Singapore Branch dengan porsi 4,38%, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM) sebesar 3,52%, DBS Bank Ltd sebesar 3,23%, Manoj Pitamber Nanwani 3,13% dan CA Indosuex (Switzerland) Sa sebesar 2,23%.
Adapun, Ronald Sutardja dan Asnish Gupta masing-masing memegang 2,91% dan 2,61% saham DOID atas nama pribadi.
Ganti Pengandali
Awal mula kemungkinan pergantian pengendali DOID itu berasal dari perjanjian partisipasi Souls Humanity di penerbitan convertible note Northstar Tambang Persada pada 1 Januari 2021.
Lewat keterbukaan informasi saat itu, manajemen DOID menerangkan, convertible note itu dapat dikonversi menjadi non-voting class C shares dalam Northstar Tambang Persada.
Selain itu, pemegang saham kelas A dan B Northstar Tambang Persada turut menandatangani perjanjian opsi saham dengan Souls Humanity.
Melalui pelaksanaan opsi itu, Souls Humanity mempunyai akses untuk menguasai seluruh saham Northstar Tambang Persada, yang saat itu berisikan gabungan pengelola dana investasi yang dipimpin Patrick Walujo.
Hanya saja, perkembangan pelaksanaan perjanjian convertible note dan opsi saham antara Souls Humanity dan Northstar Tambang Persada tidak lagi terdengar setelah keterbukaan informasi terakhir manajemen DOID pada akhir Januari 2021.
Belakangan, nama Souls Humanity muncul menghimpit saham konsorsium Northstar Tambang Persada pada paruh pertama 2021. Kepemilikan 100% Souls Humanity atas Northstar Tambang Persada baru muncul pada laporan tahun buku 2023.
Bloomberg Technoz telah meminta konfirmasi ke Patrick Walujo ihwal keputusan untuk melepas kepemilikan langsung atas Northstar Tambang Persada tersebut. Hanya saja, permohonan konfirmasi tidak ditanggapi sampai berita tayang.
Balik Merugi
Selepas ditinggal Patrick, harga saham DOID lanjut melemah sampai perdagangan awal tahun ini. Saham DOID susut ke level Rp284 per saham pada perdagangan Jumat (14/4/2026) pukul 13.25 WIB, terkoreksi 30,39% secara tahunan.
Dari sisi keuangan dan operasi, DOID mencatatkan rugi bersih sebesar US$116,2 juta atau sekitar Rp1,93 triliun (asumsi kurs Rp16.666 per dolar AS) sepanjang 2025.
Posisi rugi bersih sepanjang tahun lalu itu membengkak dari posisi rugi tahun sebelumnya di level US$61,31 juta atau sekitar Rp989,29 miliar (asumsi kurs Rp16.129 per dolar AS).
Direktur DOID Iwan Fuad Salim mengatakan produksi mengalami gangguan signifikan pada awal 2025, termasuk cuaca buruk serta penghentian dan penyelesaian sejumlah kontrak di Indonesia dan Australia.
Kondisi ini menekan volume overburden turun 19% dan produksi batu bara turun 6%, sehingga pendapatan ikut merosot 16% menjadi US$1,48 miliar.
Tekanan juga datang dari sisi profitabilitas. EBITDA turun menjadi US$175 juta akibat volume lebih rendah, kenaikan biaya bahan bakar, serta lonjakan biaya pesangon.
Menurut manajemen, EBITDA bakal berada di posisi US$207 juta dengan margin 17% apabila biaya pesangon tidak diperhitungkan.
“Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat,” kata Iwan dikutip dari keterangan resmi.
Sejumlah faktor sebenarnya menahan penurunan lebih dalam, seperti keuntungan nilai wajar US$41 juta dari investasi di 29Metals dan keuntungan selisih kurs sebesar US$36 juta. Namun, kontribusi tersebut belum cukup menutup tekanan utama.
Meski demikian, perseroan mengklaim mulai mencatat pemulihan bertahap di paruh kedua tahun 2025, ditandai dengan perbaikan arus kas bebas.
Perseroan membukukan arus kas bebas (free cash flow) positif sebesar US$8 juta pada 2025, berbalik dari posisi negatif US$60 juta pada 2024.
Adapun pada kuartal IV-2025, arus kas bebas tercatat sebesar US$57 juta, sekaligus diklaim menjadi capaian kuartalan tertinggi sepanjang tahun.
“Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan," kata Iwan.
(naw)
































