Logo Bloomberg Technoz

Meski demikian, para pemimpin Teluk secara tegas menolak kembalinya pertempuran fisik dan mendesak AS untuk tetap menempuh jalur diplomasi dengan Iran.

Terkait hal ini, juru bicara pemerintah Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain belum memberikan komentar resmi. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) merujuk pada pernyataan sebelumnya yang menuntut "pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa syarat."

UEA "menekankan perlunya pendekatan komprehensif yang mengatasi seluruh ancaman Iran, termasuk kapabilitas nuklir, rudal balistik, drone, hingga kelompok proksi dan jaringan teroris yang terafiliasi."

Perang yang pecah sejak akhir Februari lalu telah memicu gejolak di seluruh kawasan Timur Tengah. Iran membalas serangan AS-Israel dengan menghantam berbagai kota, pelabuhan, dan situs minyak di Arab Saudi, UEA, dan Qatar menggunakan rudal serta drone. Meski harga minyak sempat melandai sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April, harganya masih tercatat naik lebih dari 35% dibandingkan sebelum konflik.

"Tidak akan ada kesepakatan antara AS dan Iran dalam jangka pendek. Optimisme Presiden Donald Trump lebih karena ia sadar akan implikasi pasar," ujar Rob Macaire, mantan duta besar Inggris untuk Iran.

"Persoalannya bukan hanya apakah negosiasi akan berhasil, tapi apakah kemajuannya cukup untuk mencegah kembalinya konflik fisik," tambahnya kepada Bloomberg. "Ini mungkin saja dilakukan, namun suara-suara di dalam Iran kemungkinan besar sudah gatal untuk kembali meluncurkan rudal. Ini adalah permainan yang berisiko tinggi."

Selat Ditutup

Sejauh ini, Selat Hormuz secara efektif ditutup sejak awal konflik, yang merugikan ekonomi negara-negara Teluk karena mereka tidak lagi dapat mengekspor minyak, gas alam cair, aluminium, serta produk seperti pupuk dalam jumlah normal.

Washington dan Teheran mempertimbangkan perpanjangan gencatan senjata selama dua minggu, yang berakhir Selasa malam waktu AS, menurut laporan Bloomberg. Langkah itu akan memberi lebih banyak waktu bagi kedua pihak untuk merundingkan kesepakatan damai.

Namun, tidak ada jaminan kedua pihak dapat sepakat memperpanjang gencatan senjata, apalagi mencapai kesepakatan damai formal. Selain isu Selat Hormuz — yang menurut Iran ingin berada di bawah kendalinya secara permanen — persoalan lain yang masih diperdebatkan mencakup program nuklir dan rudal Iran, pencabutan sanksi terhadap Republik Islam tersebut, serta perang yang sedang berlangsung di Lebanon antara Israel dan kelompok yang didukung Teheran, Hizbullah.

Macaire mengatakan terdapat titik temu dalam isu nuklir, yakni Iran berkomitmen menerima inspeksi dan tidak memperkaya uranium untuk periode tertentu. Keringanan ekonomi kemungkinan berupa pembukaan kembali sebagian aset Iran yang dibekukan oleh AS serta pelonggaran perdagangan minyaknya, sementara kesepakatan terkait Selat Hormuz dan tuntutan jaminan keamanan dari Iran akan jauh lebih rumit.

Trump pada Kamis juga mengumumkan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon tanpa menyebut Hizbullah. Sejumlah pejabat menilai gencatan senjata di Lebanon dapat membantu memperlancar pembicaraan dengan Iran.

(bbn)

No more pages