Logo Bloomberg Technoz

Kenaikan Harga Patokan Nikel Dinilai Tekan Smelter, ESDM Respons

Azura Yumna Ramadani Purnama
16 April 2026 11:20

Smelter nikel yang sedang tidak beroperasi./Bloomberg-Andrey Rudakov
Smelter nikel yang sedang tidak beroperasi./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara ihwal revisi Harga Patokan Mineral (HPM) nikel yang berpotensi makin menekan industri pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter nikel Indonesia.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengungkapkan harga bijih nikel domestik masih dihargai di bawah nilai fundamentalnya, terlebih jika dibandingkan bijih nikel impor dari Filipina dan Kaledonia Baru.

Dia menyatakan revisi formula HPM hanya dilakukan agar harga bijih domestik dapat mencerminkan nilai fundamentalnya, sehingga dapat bersaing dengan bijih Filipina hingga Kaledonia Baru yang kerap diimpor perusahaan pengolahan nikel Indonesia.


“Sekarang lihat data impor nikel dari Filipina sama New Caledonia. Berapa? Sampai di sini berapa? Nah, pertanyaan selanjutnya adalah kenapa nikel kita dihargai rendah?” kata Tri ditemui awak media di Kompleks DPR RI, Rabu (15/4/2026).

Nah kalau misalnya kalian [perusahaan smelter] beli di luar, kenapa kalian menghargai harga di luar lebih tinggi ketimbang harga yang ada di Indonesia?" tegas dia.

Ilustrasi tambang nikel (Bloomberg)