Logo Bloomberg Technoz

Kendati begitu, dia mengklaim harga bijih nikel Indonesia usai dilakukan revisi HPM tetap masih di bawah harga bijih impor.

Tri menjelaskan dalam formula HPM sebelumnya terdapat komponen premium, yakni tambahan harga di atas harga acuan yang muncul dalam transaksi pasar tetapi belum tercermin dalam perhitungan HPM.

Dia juga mengamini penyesuaian HPM nikel membuat harga bijih domestik terkerek, bahkan mencapai di atas 100%.

“Kita [kami] terus melakukan update terhadap perubahan apa pun yang terjadi dan mudah-mudahan kita adaptif lah terhadap perubahan,” ujar Tri.

Lain sisi, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) memandang penyesuaian HPM komoditas nikel bakal menguntungkan perusahaan pertambangan nikel sebab harga bijih nikel berpotensi terkerek.

Namun, kondisi tersebut bakal sangat memberatkan operasional pabrik pengolahan atau smelter nikel yang sebelumnya sudah mengalami tekanan.

Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono berpendapat harga bijih nikel kadar rendah atau limonit bakal naik lebih dari 100% karena kandungan kobalt dalam bijih limonit diperhitungkan dalam formula HPM baru.

Untuk smelter pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF), kata Sudirman, tekanan biaya produksi berasal dari harga energi yang meningkat.

Pada saat yang sama, harga nickel pig iron (NPI) di pasar global masih terdiskon gegara permintaan yang belum membaik dan overproduksi.

Sementara itu, untuk smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL), kenaikan biaya produksi terjadi lebih tinggi gegara melonjaknya harga asam sulfat gegara perang di Timur Tengah.

“Asam sulfat yang merupakan bahan utama untuk proses pelindian, mengalami kenaikan signifikan dalam 3 tahun terakhir, dari harga sebelumnya di bawah US$100/ton, sekarang mencapai US$250/ton,” kata Sudirman ketika dihubungi, Rabu (15/4/2026).

Sudirman menyatakan jika harga bijih nikel kadar rendah atau limonit naik lebih dari 100%, maka smelter HPAL bakal mengalami tekanan yang paling besar.

Berdasarkan perhitungan Perhapi, dengan adanya kenaikan harga HPM ditambah kenaikan harga asam sulfat maka biaya produksi nikel dalam mixed hydroxide precipitate (MHP) yang dihasilkan smelter HPAL bakal mencapai lebih dari US$17.000/ton.

Adapun, Kementerian ESDM resmi mengubah HPM untuk penjualan komoditas mineral logam, termasuk bijih nikel dan bijih bauksit.

Aturan tersebut tertung di dalam Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 144/2026 tentang Perubahan atas Kepmen ESDM 268.K/MB.01/MEM.B/2025 tentang Pedoman Penetapan Harga Patokan untuk Penjualan Komoditas Mineral Logam dan Batu Bara. Aturan itu berlaku efektif mulai 15 April 2026.

Dalam aturan terbaru tersebut, formula HPM bijih nikel tidak lagi hanya mengacu pada kadar nikel, melainkan turut mempertimbangkan kandungan mineral ikutan seperti besi (Fe), kobalt (Co), dan krom (Cr), serta faktor kadar air atau moisture content.

Dijelaskan bahwa kontribusi unsur tambahan hanya dihitung jika memenuhi ambang batas tertentu, seperti kadar besi minimal 35% dan kobalt minimal 0,05%.

Sementara itu, faktor koreksi atau CF juga ditetapkan berbeda untuk masing-masing komoditas, yakni 30% untuk nikel, besi, dan kobalt, serta 10% untuk krom. Selain itu, penggunaan satuan juga berubah dari sebelumnya US$/dry metric ton (dmt) menjadi US$/wet metric ton (wmt).

Sebelumnya dalam Kepmen ESDM No. 268 Tahun 2025, perhitungan HPM bijih nikel hanya didasarkan pada kadar nikel (%Ni), corrective factor (CF), dan harga mineral acuan (HMA) nikel.

(azr/wdh)

No more pages