Adapun, DSSA mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi dengan kapasitas 1 gigawatt (GW) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal serta pengembangan proyek panas bumi lewat PT DSSR Daya Maas Sakti.
Portofolio panas bumi afiliasi bisnis Grup Sinar Mas itu mencapai 440 megawatt (MW).
Perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis, mulai dari Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat hingga Sumatra, Flores dan Sulawesi Tengah.
Lokita menuturkan perseroan menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia yang merupakan anak usaha Energy Development Corporation (EDC).
“Sejalan dengan itu kami juga terus memperkuat operational excellence melalui penerapan praktik yang lebih hijau, efisien dan berkelanjutan,” tuturnya.
Infrastruktur Digital
Seiring pertumbuhan ekonomi digital, DSSA terus memperkuat bisnis di sektor infrastruktur digital dan teknologi untuk mendukung kebutuhan konektivitas dan pengelolaan data di Indonesia.
Langkah strategis ini diperkuat melalui kemitraan dengan iFLYTEK untuk mengakselerasi transformasi digital berbasis AI di Indonesia, termasuk pengembangan berbagai solusi AI (AI use-case) & kapabilitas analitik berbasis LLM (Large Language Model) SPARK.
Sinergi ini dirancang untuk menghadirkan ekosistem digital yang lebih cerdas dan efisien di berbagai sektor industri terutama di kesehatan, pendidikan dan telekomunikasi dan digital infrastruktur.
“Pertumbuhan kebutuhan data dan konektivitas menjadi pendorong utama pengembangan bisnis digital kami. Kami melihat peluang besar untuk mendorong pemerataan penetrasi digital dengan menjawab kesenjangan yang ada, sekaligus menghadirkan solusi berbasis AI yang mudah diakses,” ujar Marlo Budiman, CEO PT DSST Mas Gemilang (DSST).
Saat ini, DSSA juga mengoperasikan jaringan fiber optic sekitar 57.000 kilometer, dengan lebih dari 9 juta homepass dan sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia.
Skala ini menjadi fondasi untuk memperluas akses digital di berbagai wilayah.
Penguatan infrastruktur ini juga didukung oleh pengembangan jaringan data center nasional yang mencakup 24 Edge Data Center di 23 pasar strategis dari Medan hingga Manado untuk memastikan pemrosesan data dengan latensi rendah.
Selain itu, Perseroan tengah menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01, sebuah fasilitas Tier-IV AI-ready berkapasitas awal 18 MW di jantung CBD Jakarta yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester kedua 2026.
Peluang pasar masih terbuka besar, dengan sekitar 50 juta masyarakat yang belum terlayani internet secara optimal dan potensi pasar telekomunikasi nasional mencapai sekitar USD 29 miliar. Pasar fixed broadband sendiri diproyeksikan tumbuh sekitar 10% setiap tahun dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami melihat peluang masa depan Indonesia yang akan banyak mengadopsi AI dimana adopsi AI ini akan ditopang oleh dua fondasi utama, yaitu energi yang andal dan infrastruktur konektivitas digital yang merata,” kata Direktur DSSA David Audy.
(red)






























